logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Gorontalo dan Mozaik ‘Islam Nusantara’

Lukman Husain by Lukman Husain
Tuesday, 5 April 2022
in Persepsi
0
Anakmu Bukan Milikmu

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Pertumbuhan Ekonomi Gorontalo: Apakah Sudah Inklusif?

Ketika Minyak Mahal

Sintesis Tradisi dan Disrupsi: Peran Strategis Pemuda Gorontalo dalam Inovasi Estetika Karawo Kontemporer

Melampaui Polemik Rumah Jawatan Kantor Pos

Oleh

Basri Amin

AGAMA Islam di Gorontalo, meskipun sudah tua sejarahnya, tapi untuk waktu yang cukup lama “Islam Gorontalo” tidak beroleh perhatian yang cukup dalam literatur nasional. Ketika Buya Hamka menulis buku Sejarah Umat Islam, pada jilid IV (1981), Gorontalo nyaris tidak disebut-sebut.

Demikian juga pada buku Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia (1979) oleh KH. Saifuddin Zuhri, pun Gorontalo tidak memperoleh tempat yang berarti. Gejala ini terus berlanjut hingga tulisan Azyumardi Azra (1994), Jaringan Ulama: Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII dan buku M. Syamsu As (1996), Ulama Pembawa Islam di Indonesia. Alhamdulillah, dengan terbitnya buku Ruh Islam dalam Budaya Bangsa (1996), sebagai hasil dari Forum Ilmiah Festival Istiqlal II, melalui tulisan Prof. S.R. Nur, akhirnya Islam Gorontalo berhasil tampil dalam publikasi nasional. Sangat unik karena S.R. Nur menyumbangkan sebuah tulisan dengan judul yang agak lain: “Islam dalam Etos Kerja Masyarakat Gorontalo”.

Pada tulisan Prof. S.R. Nur tersebut, peran Sultan Eyato sangat ditekankan. Dari kharisma keagamaan beliaulah, pada tahun 1674, pada khotbah Jumatnya, Eyato mencanangkan falsafah “adat bersendi Syariat, Syariat bersendi pada Al-Qur’an”. Eyato adalah teladan kekuasaan Islam yang luar biasa. Beliau tidak menerima beragam hadiah dari Eropa. Beliau tetap memakai baju dan sarung (tenunan) produksi Gorontalo, juga senang memakai upia karanji (Nur, 1996: 127-142).

Lebih lanjut, melalui penulis klasik Gorontalo, M. Lipoeto, dalam bukunya “Boekoe Poesaka Gorontalo” (1949/1950) jilid VII, hal. 32, menulis bahwa baginda raja Mohamad Iskandar PuI Monoarfa (1860) adalah seorang raja yang mengembangkan pembelajaran Islam yang intensif. Beliau dikenal sebagai seorang alim yang mempunyai kemampuan ilmu agama yang tinggi, pandai berbahasa Arab dan “mengaji Kitab”. Beliau adalah menantu Sayid Alwi Al-Habsy. Beliaulah yang mengembangkan “seni Islam” awal di Gorontalo, misalnya melalui karangan-karangan syair, zikir tepuk rabana, surujanji, dan lagu-lagu islami lainnya.

Perkembangan kesenian Islam di Nusantara sangat jelas diperkaya oleh komunitas Arab. Musik gambus dan marwas (marawis) dibawa oleh komunitas Arab, bahkan dari orkes gambus itulah akar musik rakyat (dangdut) berkembang di kemudian hari. Kosa kata dan praktik musik Islam pun meluas, misalnya penggunaan gambus, gendang-gendang kecil (marwas), gendang dari kayu (hajir), dsb.

Demikianlah arus pengaruh Hadramaut menyebar di Nusantara. Mereka berasal dari Yaman (Arab Selatan), bukan dari Saudi Arabia. Meskipun berasal dari spirit yang sama, tetapi latar geografis (batu karang yang tandus) dan struktur sosialnya mempunyai beberapa perbedaan, terutama keadaan ekonomi Hadramaut yang sulit dan rentan kelaparan.

Di Hadramaut sendiri, “kelas sosial” itu tetap terbentuk, terutama bagi “kelas suku” (abid/masakin), warga biasa/kesatria (qabili), syaikh (ulama), dan kalangan elite (sayid) –-keturunan Nabi Muhammad SAW–. Tak heran kalau tradisi yang mereka kembangkan pun berbeda, misalnya dalam praktik kesenian, gambus lebih banyak digunakan oleh “kalangan suku”, bukan oleh kalangan menengah-atas (Sayid) karena dianggap tidak cocok dengan martabat mereka.

Lebih jauh dari itu, gambus pun berkembang dengan kombinasi tarian (zafin), sebagai ekspresi tari kepahlawanan dari Timur Tengah yang awalnya banyak dilakukan kalangan santri, sebagai kegiatan ekstra setelah menempuh pelajaran agama (Isnaeni, “Historia”, 2013: 64-66).

Adalah Birgit Berg dari Universitas Rhode Island, Amerika Serikat yang pernah datang di Sulawesi Utara, termasuk Gorontalo (2006/2007), melakukan penelitian panjang tentang “musik Arab” dan menemukan bagaimana musik gambus yang disertai dengan gendang-gendang kecil (baca: maluwasi), disertai dengan dana-dana (tari zapin Melayu) berkembang di Gorontalo. Jenis berkesenian ini sangat identik dengan pertunjukan budaya daerah.

Semua ini adalah gambaran tentang “lokalitas Islam” di tanah Melayu yang ikut diperkaya dengan perjumpaannya dengan tradisi kesenian Arab. Dalam praktik yang lebih luas, bentuk orkes itu dikenal pula dengan sebutan samrah (dalam bahasa Arab artinya: “hiburan malam”), ditampilkan oleh perempuan yang menyanyikan teks arab dengan iringan rabana.

Laporan khusus majalan Historia (2013) mengurai dengan apik tentang “Orang Arab di Nusantara”. Masyarakat keturunan Arab melahirkan banyak seniman atau para penghibur, baik dalam seni peran maupun tarik suara. Dari keluarga Bafagih, Bahasuan, Albar, Sungkar, Ali Shahab, Husein Bawafie, Syakieb, Alkatiri, Ali, dan lain-lain, terlahir banyak seniman, aktor dan pekerja musik yang sangat terkenal di negeri ini.

Di luar itu, kehadiran keturunan Arab di panggung keulamaan dan politik Indonesia sudah sangat terang. Nama-nama seperti A.R. Baswedan, Alqadri, Afiff, Alatas, Hassan, Makarim, Muhamad, Shihab, dst. Sementara keluarga besar kalangan Sayid juga menyebar luas dengan otoritas keagamaan tinggi, seperti: Al-Idrus, Al-Habsyi, Assagaf, Alhadar, Shahab, Al-Hasni, dst. Di Gorontalo sendiri, sebagaimana dicatat Dr. M.H. Bahafdullah (2010:189), peran Hadrami-Nusantara antara lain tercatat sebagai Lieutenant Arab: Sayid Syeikh bin Husni Al-Hasni (1899), Sayid Muhamad bin Salim Al-Hadar (1912), dan Syeikh Umar bin Basalamah (1934). Di akhir 1930an, Persatuan Arab Indonesia (PAI), antara lain berdiri dan digerakkan di Gorontalo oleh Said Djibran dan Moehsin Alhasnie. Said Djibran dikenal agak pendiam tapi sangat peramah dan halus budi; sekaligus pengusaha yang memiliki kapal yang beroperasi di Sulawesi dan optimis bahwa PAI akan besar di Celebes/Gorontalo (AB, 1939).

Di berbagai tempat di Nusantara, “komunitas Arab” sudah lama eksis dan memberi pengaruh yang luas di wilayah syiar Islam, jaringan perdagangan, pola pemukiman, pendidikan (Jamiat Kheir, Al-Irsyad) dan bahkan (kekuatan) politik, fashion dan kuliner. Dari segi pemukiman, di beberapa tempat di Indonesia Timur dikenal dengan istilah “kampung Arab”, seperti di Gorontalo, di Ternate (Fala Jawa/Muhajirin, Tanah Raja) atau di Manado (Kampung Istiqlal).

Dalam soal etos, jiwa dagang dan semangat berlayar yang jauh, sambil berguru dan menyebarkan agama, adalah karakter utama masyarakat Hadramaut. Tak heran kalau di beberapa tempat dikenal istilah “Lieutenant Arab”, sebagai indikasi kepemimpinan koloni Arab di wilayah tertentu yang diakui di masa kolonial.

Demikian luasnya pengaruh mereka sehingga di tanah Melayu kehadiran orang-orang Arab demikian besar artinya. Bahkan dalam sejarah abad ke-18, pengaruh mereka di beberapa kesultanan di Melayu sangat tampak, di tengah-tengah empat kekuatan besar pada masa itu: Melayu, Bugis, Minangkabau, dan Aceh (De Jonge & Kaptein, 2002).

Di Sulawesi, “warisan” orang Arab cukup banyak. Diantaranya adalah kehadiran Guru Tua, S.I.S. Al-Djufrie, ketika mendirikan Al-Khairaat (sejak 30 Juni 1930) di Palu. Al-Khairaat telah mempengaruhi lanskap dunia Pesantren di Indonesia Timur, terutama karena penyebaran murid-murid S.I.S Al-Djufrie yang mendirikan pesantren di banyak tempat di Sulawesi dan Maluku. Karakternya yang egaliter membuat Al-Khairaat mewarnai pengajaran Islam di Indonesia Timur, termasuk di Gorontalo (Panjimas, No. 5/1999: 55-60). Dua puluh tahun sebelumnya, Zain Badjeber, redaktur di majalah Risalah Islamyah, edisi No. 9 tahun 1977, menuliskan panjang lebar figur besar Sayid Idrus bin Salim AlJufri. Di tahun wafatnya (1969), Al-Khairaat sudah menghasilkan 425 madrasah dan tahun 1977 jumlahnya terus membesar menjadi 535 buah. Bandingkan dengan tahun 1956 (25 madarasah) dan tahun 1963 (246 madrasah). Saat ini, ribuah madrasah sudah tercapai di puluhan provinsi di Indonesia.

Dari ini sangat jelas bahwa Islam (di) Nusantara adalah sebuah mozaik yang berhasil memberi tempat kepada toleransi dan tradisi.***

Penulis adalah Partner di Voice of Hale-Hepu.

E-mail: basriamin@gmail.com

Tags: basri aminpersepsi

Related Posts

Hendri Cahyo Dwi Safitri

Pertumbuhan Ekonomi Gorontalo: Apakah Sudah Inklusif?

Tuesday, 15 September 2026
Muh. Amier Arham

Ketika Minyak Mahal

Tuesday, 15 September 2026
NU di Persimpangan Kepentingan: Membaca Arah Nahdlatul Ulama dalam Muktamar ke-35 Tahun 2026

Sintesis Tradisi dan Disrupsi: Peran Strategis Pemuda Gorontalo dalam Inovasi Estetika Karawo Kontemporer

Monday, 14 September 2026
Dr. Funco Tanipu., ST., M.A

Melampaui Polemik Rumah Jawatan Kantor Pos

Thursday, 10 September 2026
Politisi Bisa Berganti, Rakyat Tetap Berdaulat

Politisi Bisa Berganti, Rakyat Tetap Berdaulat

Wednesday, 9 September 2026
Dr. Funco Tanipu., ST., M.A

Mengukur Sisa Waktu Kepala Daerah

Wednesday, 9 September 2026
Next Post
Si Jago Merah Kembali Mengamuk di Boalemo

Si Jago Merah Kembali Mengamuk di Boalemo

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 30 Juli 2026

Rekomendasi

Muh. Amier Arham

Ketika Minyak Mahal

Tuesday, 15 September 2026
PISA BBM

PISA BBM

Tuesday, 15 September 2026
Resmi Pimpin PB ESI, Herindra Perkuat Prestasi dan Ekosistem Esports Nasional

Resmi Pimpin PB ESI, Herindra Perkuat Prestasi dan Ekosistem Esports Nasional

Tuesday, 15 September 2026
Harfest 2026 Terbukti Perkuat Daya Saing UMKM

Harfest 2026 Terbukti Perkuat Daya Saing UMKM

Tuesday, 15 September 2026

Pos Populer

  • Kapal Pertamina Patra Niaga Bantu Selamatkan 16 Korban KMP Virgo Transport 08

    Kapal Pertamina Patra Niaga Bantu Selamatkan 16 Korban KMP Virgo Transport 08

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Harfest 2026, BI Buka Jalan UMKM Gorontalo Tembus Pasar Ekspor

    17 shares
    Share 7 Tweet 4
  • Ketika Minyak Mahal

    17 shares
    Share 7 Tweet 4
  • PISA BBM

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • 300 Siswa Ikuti Mokarawo Kolosal di HARFEST 2026

    21 shares
    Share 8 Tweet 5
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.