logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Batavia (di) Jakarta

Jitro Paputungan by Jitro Paputungan
Tuesday, 19 January 2021
in Persepsi
0
Negeri yang Ke(gemuk)an   

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Kota yang Mencari Anak-anaknya, 81 Tahun Merdeka, Saatnya Anak Kembali Bersekolah

UNGnomics: Dari Kampus Kerakyatan Menuju Mesin Pertumbuhan Gorontalo

Kakak Prabowo Presiden RI Membuka…, MBG Menjadi Ajang Khusus Para Kontingen Jambore Nasional XII?   

UNG Kampus Kerakyatan, Berdampak Untuk Semua

Oleh :
Basri Amin

Sudah lama berkembang di benak publik negeri ini bahwa apa yang terjadi di Jakarta cenderung menjadi ukuran tentang Indonesia yang hendak kita gambarkan. Hal ini sejalan dengan logika bersama yang ditumbuhkan bahwa Jakarta sebagai “pusat” kekuasaan (pemerintahan) dan sebagai simpul (perekenomian) Indonesia. Sebelum kondisi ini terbentuk sedemikian rupa, kita juga terlanjur terbiasa menempatkan Jawa sebagai pusat kemajuan, sementara daerah-daerah di luarnya kita letakkan sebagai pinggiran yang “tergantung” padanya.

Indonesia terbentuk karena kesadaran bersama dalam menentukan pilihan “menjadi Indonesia”, dalam keadaan yang serba mejemuk. Termasuk dalam hal ini menyangkut ibu kota (kita) yang bernama Jakarta itu. Sebelum Jakarta diubah menjadi Batavia oleh Belanda tahun 1619 –-melalui tangan J.P.Coen–, wilayah ini tidak lebih berposisi sebagai pembayar upeti di Banten, tapi tak lama kemudian berubah menjadi pangkalan besar bagi perkapalan Kongsi Dagang Hindia Belanda (VOC). Sejak itu, Mataram tidak lagi menjadi simbol pusat politik di Jawa. Kekuasaan Jayakarta yang sekian lama di bawah pengaruh Banten kemudian dihancurkan Belanda, termasuk permukiman pribumi. Mereka datang dengan “konsep Belanda”.

Pada suatu masa, Batavia sangat dipuji. Penulis klasik bernama Valentijn tahun 1726 menyanjungnya karena “keindahan bangunannya, kanal-kanal yang teduh, jalan-jalan yang lurus, banyak pasar dan perdagangannya bergairah”. Sayang sekali, tak lama setelah itu, keadaan memburuk karena pencemaran air dan penyakit endemis. Serangan malaria mematikan warga Batavia dalam jumlah yang sangat memilukan. Itulah yang terjadi pada tahun 1733, tercatat lebih 85 ribu jiwa hilang karena malaria (Nas & Grijns, 2007; Van Der Brug, 2007). Pada masa ini, Batavia sejajar jumlah penduduknya dengan kota-kota besar di dunia, seperti Madrid, Roma dan Amsterdam. Batavia menjadi kota yang “mati karena Malaria”.

Ketika Batavia atau Jakarta mulai berkembang pesat, ribuan petani dan pekerja Cina merupakan tulang punggungnya. Ia menjadi kota pelabuhan besar (baca: kota bandar) dan dari sanalah kosmopolitanisme Jakarta terbentuk, dengan bebas dan kohesif. Pendudukanya, selain yang berlatar Jawa, Sunda, Betawi, juga terdiri dari Belanda, China, Arab, Bali, Makassar, dst. Masyarakat urban Batavia tumbuh sebagai “masyarakat plural yang berdasarkan ketidaksederajatan etnis dan agama, tetapi dalam batas-batas tata krama pada masa itu…”(Blusse, 2007:31).

Menurut Blusse, dalam percaturan yang cukup lama, Batavia berkembang dengan pengaturan kolonial melalui beragam cara (ritual kewargaan, cara berpakaian dan kewajiban menciptakan masyarakat majemuk). Dari sinilah bentuk-bentuk diplomasi berjalan intensif dan terkelola dengan kecermatan tinggi. Tapi goncangan-goncangan sosial tentulah setiap saat terjadi. Bagaimana pun, kelompok etnis sudah eksis sejak awal, terutama Betawi, China, Arab dan Belanda, dan pasti terdapat beragam persaingan dan bentuk-bentuk kerjasama atau kompromi. Di masa kolonial, pemerintah VOC bahkan menempatkan China sebagai warganya yang setia (Nas & Grijns, 2007).

Komunitas China adalah kelompok yang mempunyai jejak panjang dalam pertumbuhan Batavia sejak awal. Dalam jaringan perdagangan di Asia, bisa dikatakan bahwa hampir semua rantai perdagangan, buruh dan petani tak bisa lepas dari jaringan China. Tercatat misalnya, bagaimana sebuah surat diplomatik orang China kepada Gubernur jenderal di Batavia, dengan kata-kata yang unik: “Wahai Baginda Panguasa Pa, yang menjamin hukum dan ketertiban di silang perdagangan laksana as menyatukan semua jari-jari roda!” (Blusse, 1996 [1997]).

Tidak begitu sulit membayangkan bagaimana sejumlah kompromi dan pengaturan yang otoritatif terbentuk sebagai sebuah keharusan. Hanya melalui mekanisme itulah keragaman sosial tidak berubah menjadi prahara dan pada saat yang sama keseimbangan penghidupan bisa berjalan langgeng. Inilah perkara abadi bagi sebuah kota besar yang majemuk, dengan warisan penguasaan ruang, legitimasi sejarah dan jaringan politik yang luas.

Warisan kolonial seolah menegaskan karakter yang tunggal menyangkut kekuasaan. Dikatakan bahwa “kebesaran seorang penguasa diukur berdasarkan jumlah kapal yang merapat di bandarnya dan jumlah arak-arakan utusan yang berkerumun di gerbang istananya…”. Diktum seperti ini, rasa-rasanya masih dianut hingga kini oleh penguasa-penguasa kita. Kelas-kelas sosial dibentuk sedemikian riuh, ritual-ritual yang membagi manusia berdasarkan kasta-kasta posisi, penampakan (citra) uangnya dan asesori hidupnya sepertinya semakin terlembagakan. Di banyak situasi, kita memperlakukan orang berdasarkan kasta sosialnya.

Keseimbangan peran dan kepemimpinan yang kuat yang dilandasi oleh pengaturan yang ketat adalah “warisan positif” periode kolonial Batavia. Tak heran kalau sekian lama dikenal kepemimpinan berbasis komunitas, antara lain dengan sebutan Kapten Melayu, demikian juga dengan Kapten Arab, China, dll. Meski demikian, sudah tentu tetaplah terjadi konflik dan peristiwa-peristiwa yang bersifat adu-kekuatan. Ketika arus perdagangan di Asia berlangsung luas, komunitas China terkenal karena perannya sebagai “perantara dalam pergaulan diplomatik”. Mereka bahkan menulis banyak peristiwa dalam tarikh China Batavia, Kai Pa Li-tai shih-chi (Medhurst 1840).

Jakarta “belum selesai” hingga kini. Lihatlah bagaimana partikularitas etnis Betawi dalam lanskap megapolitan Jakarta; demikian juga dengan persepsi-persepsi yang terus berubah tentang Islam, Hadrami, Tionghoa, Batak, Jawa, dst. Padahal, gejala “percampuran” dan legitimasi yang mengurai peran-peran setiap kelompok dalam perjalanan sejarah Indonesia sudah memberi kesimpulan yang kuat atas keragaman itu.(*)

 

Penulis adalah Parner di Voice-of-HaleHepu;
Anggota Indonesia Social Justice Network (ISJN)
E-mail: basriamin@gmail.com

Tags: basri amainbatavia (di) jakartaspektrum sosial

Related Posts

Kota yang Mencari Anak-anaknya,  81 Tahun Merdeka, Saatnya Anak Kembali Bersekolah

Kota yang Mencari Anak-anaknya, 81 Tahun Merdeka, Saatnya Anak Kembali Bersekolah

Saturday, 15 August 2026
Kakak Prabowo Presiden RI Membuka…, MBG Menjadi Ajang Khusus Para Kontingen Jambore Nasional XII?   

Kakak Prabowo Presiden RI Membuka…, MBG Menjadi Ajang Khusus Para Kontingen Jambore Nasional XII?   

Saturday, 15 August 2026
Dari Agromaritim ke Blue-Green-Gold Economy: Jalan Baru Gorontalo Menuju Pertumbuhan yang Inklusif dan Berkelanjutan

UNGnomics: Dari Kampus Kerakyatan Menuju Mesin Pertumbuhan Gorontalo

Friday, 14 August 2026
Muh. Amier Arham

UNG Kampus Kerakyatan, Berdampak Untuk Semua

Monday, 10 August 2026
Basri Amin

Indonesia Raya “Lahir” di Sulawesi

Monday, 10 August 2026
Ramadan, Embarkasi Haji Gorontalo, dan Ikhtiar Kepemimpinan

Menenun Indonesia Emas 2045 dari Pesisir Teluk Tomini

Saturday, 8 August 2026
Next Post
Peluang Medsos

Peluang Medsos

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 30 Juli 2026

Rekomendasi

666 Napi di Gorontalo Terima Remisi, 19 Orang Bebas

666 Napi di Gorontalo Terima Remisi, 19 Orang Bebas

Monday, 17 August 2026
Gubernur Gusnar Serukan Kemerdekaan yang Tak Berhenti di Upacara

Gubernur Gusnar Serukan Kemerdekaan yang Tak Berhenti di Upacara

Monday, 17 August 2026
Tak Ada Emas Seharga Nyawa, Boyke Bakar Semangat Ribuan Pekerja Pani Gold Mine di HUT ke-81 RI

Tak Ada Emas Seharga Nyawa, Boyke Bakar Semangat Ribuan Pekerja Pani Gold Mine di HUT ke-81 RI

Monday, 17 August 2026
Datuk Merdeka

Datuk Merdeka

Monday, 17 August 2026

Pos Populer

  • Muh. Amier Arham

    UNG Kampus Kerakyatan, Berdampak Untuk Semua

    19 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Longsor Tambang DAM Pohuwato, Kapolres: 15 Saksi Sudah Diperiksa

    64 shares
    Share 26 Tweet 16
  • Polisi Dalami Longsor Tambang Hulawa

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • 666 Napi di Gorontalo Terima Remisi, 19 Orang Bebas

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Gubernur Gusnar Serukan Kemerdekaan yang Tak Berhenti di Upacara

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.