Gorontalopost.co.id, GORONTALO — Laju pertumbuhan ekonomi Provinsi Gorontalo terus menunjukkan tren yang menggembirakan. Pada triwulan I 2026, ekonomi daerah tumbuh 7,68 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional. Meski demikian, tingginya inflasi menjadi tantangan yang harus segera diantisipasi agar tidak mengurangi daya beli masyarakat.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Gorontalo, Arie Suwandani Wiwit Warastuti, mengatakan capaian tersebut mencerminkan aktivitas ekonomi daerah yang terus bergerak positif. Namun, pengendalian harga komoditas, terutama kebutuhan pokok, tetap menjadi perhatian pemerintah.
“Pertumbuhan ekonomi Gorontalo pada triwulan satu mencapai 7,68 persen, jauh di atas rata-rata nasional. Namun kita juga mengalami inflasi sebesar 4,77 persen secara year on year dan 2,11 persen secara month to month,” ujarnya saat Press Conference ALCo Regional Makro Ekonomi, Keuangan, dan Moneter Lo Hulonthalo di Aula Dulohupa Kanwil DJPb Provinsi Gorontalo, Jumat (31/7).
Arie menjelaskan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi dengan andil mencapai 1,94 persen. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya menjaga ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi pangan agar harga tetap terkendali.
Di tengah tekanan inflasi, sejumlah indikator sosial ekonomi justru mengalami perbaikan. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Gorontalo tercatat sebesar 72,62 atau berada pada kategori tinggi. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) juga berada di angka 3,17 persen, sedangkan persentase penduduk miskin turun menjadi 12,62 persen.
Perkembangan positif juga terlihat pada sektor pertanian dan perikanan. Nilai Tukar Petani (NTP) pada Juni 2026 mencapai 131,04 atau naik 7,48 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Peningkatan tersebut dipengaruhi membaiknya kinerja subsektor hortikultura. Sementara itu, Nilai Tukar Nelayan (NTN) berada pada angka 106,62.
“Alhamdulillah kita berhasil mempertahankan nilai tukar petani. NTP meningkat menjadi 131,04 karena didorong subsektor hortikultura. Sedangkan nilai tukar nelayan tercatat sebesar 106,62 pada Juni 2026,” jelasnya.
Selain memaparkan kondisi ekonomi daerah, Arie juga menjelaskan kinerja fiskal nasional hingga Juni 2026. Menurutnya, APBN masih berada dalam kondisi yang sehat dengan pendapatan negara mencapai Rp1.459,4 triliun dan belanja negara sebesar Rp1.656 triliun.
“Defisit APBN hingga akhir Juni sebesar Rp196,5 triliun atau 0,76 persen terhadap PDB. Kondisi ini menunjukkan APBN tetap solid, sehat, dan adaptif dalam mendukung pertumbuhan ekonomi. Keseimbangan primer juga masih mencatat surplus Rp85,1 triliun,” pungkasnya. (Tr-76)












Discussion about this post