gorontalopost.co.id – Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai hadir di kampus Univesitas Negeri Gorontalo (UNG), Rabu (1/4) kemarin. Pigai menjadi narasumber utama dalam kuliah umum bertajuk Penguatan Kapasitas HAM bagi Masyarakat yang diikuti kurang lebih 5 ribu mahasiswa itu.
Pigai menegaskan bahwa negara memiliki peran utama dalam menjamin pemenuhan hak asasi manusia. Ia juga mengingatkan mahasiswa sebagai generasi penerus agar mampu memahami dan menghargai hak setiap individu. Menurutnya, hal tersebut menjadi modal penting dalam membangun peradaban yang berkeadilan. “Mahasiswa harus memahami dan menghargai hak asasi setiap individu sebagai modal awal membangun peradaban,” ujar Pigai pada acara yang turut dihadiri Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail itu.
Lebih lanjut, Pigai menjelaskan bahwa penguatan kapasitas HAM merupakan bagian dari tanggung jawab negara yang harus terus ditingkatkan. Ia menilai kegiatan ini juga sejalan dengan program prioritas nasional, termasuk Asta Cita Presiden yang menekankan pentingnya demokrasi dan penegakan HAM di Indonesia. “Ini bagian dari tanggung jawab negara dalam membangun peradaban HAM dan memperkuat demokrasi,” tambahnya.
Kegiatan tersebut turut mendapat apresiasi dari Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail. Ia menilai kehadiran Menteri HAM memberikan pencerahan tidak hanya bagi masyarakat umum, tetapi juga bagi pemerintah daerah dalam memahami pentingnya penerapan prinsip HAM. Menurut Gusnar, penguatan HAM harus menjadi dasar dalam setiap kebijakan yang diambil oleh pemerintah daerah.
Ia menegaskan bahwa ke depan, seluruh regulasi di Gorontalo akan disusun dengan mempertimbangkan aspek hak asasi manusia secara lebih serius. “Ke depan, semua regulasi di Gorontalo akan disesuaikan dengan prinsip HAM, apakah melanggar atau tidak,” ungkap Gusnar Ismail. Melalui kegiatan ini, diharapkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya hak asasi manusia semakin meningkat, serta mampu mendorong terciptanya kebijakan yang adil dan berpihak kepada seluruh lapisan masyarakat.
Sebelumnya, Rektor UNG Prof. Eduart Wolok dalam sambutannya menyebut kehadiran Menteri HAM sebagai kesempatan berharga yang tidak boleh disia-siakan. Ia menilai bahwa memahami HAM di Indonesia bukanlah hal yang sederhana, mengingat besarnya keberagaman suku, bahasa, dan adat istiadat di seluruh nusantara. “Ada kebiasaan yang di satu wilayah dianggap pelanggaran HAM, namun di wilayah lainnya justru dianggap sebagai bentuk keakraban. Penyamaan persepsi kita tentang HAM menjadi sangat penting,” ujar Edward Wolok di hadapan ribuan peserta. (mg-03/mg-07/mg-02/mg-04)













Discussion about this post