Oleh:
Husin Ali
SIANG itu saya mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng. Baru sembilan hari saya dipercaya mengemban amanah mengurusi pendidikan dan kebudayaan, tugas yang membuat setiap perjalanan terasa sekaligus ringan dan berat. Saya datang mengikuti agenda Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia di Tangerang. Di tengah arus penumpang dan jadwal yang rapat, waktu Zuhur tiba. Saya mencari mushola.
Seorang cleaning service bandara, berseragam lengkap, alat kerja masih di tangan, menyambut pertanyaan saya dengan sigap. Ia menunjuk arah, menjelaskan dengan jelas, dan menutupnya dengan senyum tulus. Bukan senyum formal yang diwajibkan SOP, melainkan senyum yang lahir dari kesadaran membantu sesama. Saya berjalan menuju mushola dengan perasaan dituntun, bukan sekadar diarahkan.
Di mushola, sholat berlangsung bergantian. Orang datang dan pergi. Di sela itu, terdengar lantunan tartil Al-Qur’an, pelan, terjaga, menenangkan. Di sudut ruangan, seorang petugas keamanan tengah tadarus. Tak ada niat mempertontonkan kesalehan. Hanya iman yang dirawat di sela tugas.
Saat saya hendak keluar, datang petugas keamanan lain. Ia bertanya, “Masih penuh?” Jawaban yang diterimanya sederhana dan hangat: “Sudah nggak terlalu ramai. Sholat saja dulu, biar fresh bekerjanya.” Kalimat itu diucapkan dengan senyum ikhlas. Ia tidak hanya menjaga ruang, tetapi menjaga manusia yang bekerja di dalamnya.
Sebagai antropolog, saya melihat peristiwa ini bukan kebetulan kecil. Ini adalah praktik budaya, pendidikan karakter yang hidup (values in action). Di ruang publik yang sering kita bayangkan dingin dan mekanis, nilai empati, spiritualitas, dan kepedulian justru bekerja paling nyata. Tidak melalui modul. Tidak lewat spanduk. Tetapi melalui teladan.
Antropologi mengajarkan bahwa budaya diwariskan terutama lewat contoh yang diulang dan diterima sebagai kebiasaan. Di mushola bandara itu, saya menyaksikan pendidikan diam-diam: cleaning service yang melayani dengan hormat; security yang menenangkan ruang dengan Al-Qur’an; rekannya yang mengajak sholat agar kerja lebih segar. Karakter tumbuh dari relasi, bukan instruksi.
Pengalaman ini menyatu kuat dengan ikhtiar Make Up School di Kota Gorontalo. Sebuah kebijakan yang berangkat dari kesadaran bahwa sekolah tidak cukup jika hanya dibenahi dari dalam pagar. Pendidikan perlu “dirias ulang”, bukan untuk menutup kekurangan, melainkan untuk memperluas makna belajar. Dengan semangat “Torang Bekeng Bae Kota Gorontalo”, Kota Gorontalo diposisikan sebagai ruang belajar bersama.
Di titik inilah saya semakin memahami visi besar yang berulang kali ditegaskan oleh Wali Kota Gorontalo, Bapak Haji Adhan Dambea, dan Wakil Wali Kota, Bapak Indra Gobel: menjadikan Gorontalo sebagai Kota Jasa. Kota yang bertumpu pada kualitas manusia dan mutu pelayanannya, pada etika, kepercayaan, dan karakter warganya.
Empat misi pembangunan kota itu menemukan bentuk nyatanya melalui Make Up School.
Pertama, meningkatkan penerapan nilai-nilai religius dalam kehidupan bermasyarakat. Gorontalo—Serambi Madinah—menjadikan iman sebagai laku hidup: menenangkan, menguatkan, membimbing.
Kedua, meningkatkan daya saing sumber daya manusia dan ekonomi kerakyatan untuk kesejahteraan. Daya saing lahir dari karakter kerja: disiplin, tanggung jawab, empati, yang ditempa sejak sekolah.
Ketiga, meningkatkan infrastruktur mandiri dan berkelanjutan. Dalam pendidikan, infrastruktur adalah iklim belajar: sekolah yang aman, bersih, ramah, dan menumbuhkan rasa memiliki.
Keempat, meningkatkan kualitas sistem pemerintahan yang berorientasi pelayanan prima, akuntabel, inovatif, dan responsif. Pelayanan prima dibentuk sejak dini—dari budaya menyapa, tertib, dan jujur di sekolah.
Inilah yang saya impikan hadir di semua sekolah di Kota Gorontalo: sekolah yang ramah sejak gerbangnya; menenangkan suasananya; religius tanpa menakutkan; disiplin tanpa kekerasan; berprestasi tanpa kehilangan adab. Sekolah yang terbuka pada kotadan kota yang ikut menjaga sekolahnya.
Tulisan ini saya hadirkan tepat pada 1 Maret—tanggal yang bagi saya bukan sekadar penanda waktu. 1 Maret adalah hari pertama saya merasakan hidup bersama mama, istri, dan adik-adik tanpa kehadiran seorang ayah, yang wafat pada 1 Maret 2015. Sejak hari itu, saya belajar bahwa kehilangan bisa menjadi guru paling jujur: ia mengajarkan keteguhan, empati, dan tanggung jawab, nilai-nilai yang tak pernah selesai dipelajari.
Dari pengalaman personal itulah, saya semakin meyakini bahwa pendidikan sejati lahir dari kehidupan, bukan semata dari kurikulum. Dan di situlah Make Up School menemukan maknanya yang paling dalam: kebijakan yang merawat manusia, bukan sekadar mengatur sekolah. Ia mengajak kita memaksimalkan setiap ruang sebagai ruang pendidikan, masjid yang menenangkan, pasar yang jujur, kampus yang mencerahkan, kantor yang melayani dengan hati, toilet yang bersih dan diam membuat pemiliknya bangga dengan kebersihan yang tulus menyapa setiap aktivitas kecil ke ruang itu.
Make Up School adalah cara pandang pembangunan. Bahwa kota jasa hanya akan tumbuh jika warganya belajar melayani sejak dini; bahwa religiusitas bermakna jika hadir dalam perilaku; dan bahwa pendidikan karakter paling kuat lahir dari keteladanan di ruang publik. Di Gorontalo, kebijakan ini ingin memastikan bahwa setiap orang dewasa sadar sedang mendidik, dan setiap anak merasa sedang belajar, di mana pun ia berada.
Siang itu, di sebuah mushola bandara, saya kembali diingatkan: kota yang baik adalah kota yang mengajar. Dan Gorontalo, Serambi Madinah, Kota Jasa, kota dengan iman, ilmu, dan budaya yang hidup, memiliki semua syarat untuk menjadi ruang belajar yang membanggakan. Inilah harapan besar kita bersama. Torang bekeng bae Kota Gorontalo. (*)
Penulis adalah Antropolog;
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Gorontalo










Discussion about this post