Gorontalopost.co.id, LIMBOTO – Hiruk-pikuk persiapan menyambut bulan suci Ramadan mulai terasa di kawasan ikonik Menara Keagungan Limboto, Kabupaten Gorontalo. Namun, di balik semangat para pedagang musiman untuk mencari rezeki, terselip keluhan mengenai kenaikan biaya sewa lapak yang dinilai memberatkan.
Pada Senin (23/2), area trotoar di bawah kemegahan Menara Limboto mulai dipenuhi oleh para pedagang perlengkapan ibadah. Salah satunya adalah Asma Yusuf (48), seorang pedagang yang setiap tahunnya menjajakan kopiah, peci, dan sarung di lokasi tersebut.
Asma mengungkapkan keresahannya terkait kebijakan tarif sewa lapak tahun ini. Ia menyebutkan adanya kenaikan harga yang sangat drastis dibandingkan tahun sebelumnya.
“Yang saya sayangkan, setiap tahun pasti ada perubahan harga untuk biaya lapak di trotoar ini. Tahun kemarin hanya Rp200.000, tetapi sekarang sudah naik drastis menjadi Rp600.000 per bulan,” ungkap Asma saat ditemui di lapaknya.
Selain biaya sewa tempat kepada pihak pengelola, Asma juga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk menyewa tenda sebagai tempat berlindung dari cuaca. Beruntung, biaya sewa tenda tersebut masih dapat dibayarkan setelah bulan Ramadan usai.
Demi mengejar target penjualan, Asma mulai membuka lapaknya sejak pukul 11.00 WITA hingga pukul 01.00 dini hari. Ia memprediksi puncak keramaian pembeli akan terjadi pada tiga hari menjelang (H-3) Ramadan.
Adapun rincian harga barang yang ia tawarkan meliputi: Peci dan Kopiah: Dijual dengan kisaran harga Rp20.000 hingga Rp75.000. Sarung: Dipatok dengan harga mulai dari Rp100.000.
Mengingat keuntungan dari berjualan peci tidaklah seberapa, Asma menaruh harapan besar agar pemerintah daerah dapat meninjau kembali kebijakan tarif tersebut.
“Harapan saya untuk Ramadan tahun ini, semoga kebijakan pemerintah bisa berubah terkait masalah biaya lapak ini. Keuntungan dari berjualan kopiah ini tidak seberapa, sehingga biaya sewa yang tinggi sangat terasa berat bagi kami,” pungkasnya (MG-02)













Discussion about this post