logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
Pemkot Gorontalo

Home Persepsi

Sarjana Hebat Di Kampus yang Benar

Lukman Husain by Lukman Husain
Tuesday, 2 September 2025
in Persepsi
0
Basri Amin

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Dari Street Justice menuju Digital Justice

Pemilihan Kepala Daerah dan Arah Demokrasi Kita

Bupati-Bupati Kita

PETI di Boliyohuto Cs Semakin Marak, APH Apa Kabar?

Oleh:
Basri Amin

KAGET betul saya ketika meminta kepada putrid pertama kami memperlihatkan ijazah sarjananya. Kaget karena yang dia kirimkan “hanya” sebuah file PDF. Wah! Ijazah kok begini ya gayanya… Saya telpon untuk memastikannya, tetapi dia dengan bangga dan ngotot menjawab bahwa itulah ijazah dia yang sebenarnya.

Rupanya, di dalamnya memuat banyak hal dan beberapa kode khusus serta kalimat-kalimat dengan huruf yang sangat estetik – berwibawa, hal mana semua itu “menegaskan” derajat kesarjanannya. Bahkan pencapaian cum laude-nya pun dituliskan.

Saya belum sepenuhnya “nyaman hati” karena tidak menyentuh kertas sarjana-nya, kendati kami tahu persis semua tahapan belajarnya, uji kritis tugas akhir, publikasi, dan kredibilitas para dosennya, dst.

Ia tuntas belajarnya pada akhir tahun 2024, menjelang ulang tahunnya, dengan penguasaan dan pengalaman tertentu di bidang Disan & Inovasi Produk pada Fakultas Industri Kreatif, di sebuah universitas di Bandung, Jawa Barat. Di awal September 2005 ini, ia melanjutkan pembelajaran tingginya di bidang yang sejajar, di sebuah universitas “ternama” di Bandung, setelah ia menjalani sekian tahap ujian yang kritikal. Semoga Allah SWT menolong cita-citanya!

Ukuran (kertas) ijazah Sarjana memang selebar kertas, tetapi Ijazah dengan “I” besar adalah tanda pencapaian yang jujur, rasa syukur, persistensi kerja, dan pertaruhan kualitas diri dalam ber-Guru dan dalam mengabdikan ilmu dan cita-cita.

Ijazah adalah lisensi untuk berjalan lebih jauh dan berbuat baik lebih luas. Ijazah dan gelar bukan simbol untuk congkak dan pongah di hadapan manusia lain yang tak ber-ijazah. Ingat, jasa-jasa mereka yang tidak berijazah sungguh banyak untuk kita.

Kampus yang benar haruslah menanamkan kaidah-kaidah seperti ini kepada semua calon sarjananya. Janganlah percakapan masa depan dikecoh oleh kasta-kasta akademis yang mencengangkan mereka. Kukuhkan pribadi sarjana yang sejati dalam dadanya, bukan menjadi pribadi pendendam dan pembeo status dengan gelar-gelar dan jabatan-jabatan tetapi dengan mental “jago kandang”.

Tidak ada di antara kita yang bisa memastikan tentang masa depan. Meski demikian, tanda-tanda ke masa depan tetapbisa “dibaca” dan kekuatan yang akan menentukannya pun bisa terlihat bagian-bagiannya.

Puluhan tahun lalu, Professor Alvin Toffler, menulis sebuah risalah yang mengguncang dunia dan memicu perubahan di beberapa tempat di planet ini. Apa yang beliau jelaskan adalah tentang keterkejutan masa depan, Future Shock (1971). Prof. Toffler menggambarkan bahwa dalam guncangan kehidupan di abad 21, kita membutuhkan adaptasi, daya tahan dan kategori ‘manusia baru’.

Di abad ini, umat manusia tidak lagi semata dibagi-bagi berdasarkan agama, bangsa, ras dan suku atau idiologi, tetapi (terutama) manusia juga dikelompokkan berdasarkan kemampuan mereka “memahami, merasa, dan mengelola waktu” (a sense of their position in time).

Dewasa ini, masyarakat kita tidak sekadar banyak berubah; yang terjadi adalah munculnya jenis masyarakat baru! Sesungguhnya, ketika kampus melahirkan ribuan sarjana lulusannya, mereka sewajarnya adalah bagian atau pembentuk “masyarakat baru” itu. Mereka tidak sekadar menjadi saksi atas perubahan karena mereka adalah bagian dari perubahan itu.

Psikolog terkenal dari Jerman, Eric Fromm, pada tahun 1974 menulis sebuah buku yang hingga kini dianggap karya klasik yang abadi dirujuk orang, termasuk kalangan sarjana.Apa yang ditekankan buku Fromm tersebut adalah tentang pentingnya kekuatan “harapan” dalam sebuah masyarakat sehat; sebuah revolution of hope!

Ketika menempuh kuliah bertahun-tahun, calon-calon sarjana kita tak terhitung berapa banyak kertas dan bahan-bahan copy-an yang sudah mereka pakai, berapa banyak pena yang sudah mereka habiskan tintanya.

Begitu banyak waktu dan data yang dipakai melalui gawai mereka ketika setiap saat berselancar di dunia maya dari samudera informasi yang gelombangnya bergulung-gulung melibat daya ingat manusia.

Sejauh ini, diyakini bahwa tugas-tugas belajar membentuk tanggung jawab moral dan intelektual mereka ketika diminta atau dipaksa belajar melalui penugasan bacaan, tugas lapangan, dan percobaan-percobaan.

Di luar itu, mereka juga harus berurusan tentang hidup sehari-hari, tentang uang yang harus mereka kelola, rupa-rupa menu makanan yang mereka cicipi, jam-jam tidur lelap dan gelisah yang mereka lewati, dst. Belum lagi mereka yang aktif menjadi aktivis organisasi mahasiswa, dst. Tekanan demi tekanan datang silih berganti. Dan mereka, sebagian besar, berhasil melewati itu semua…

Tetapi, di atas semua itu, terbentang luas doa-doa sang Ibu tercinta di rumah, berdiri kokoh wajah-wajah sang ayah yang tegar mencari nafkah untuk studi mereka;…keluarga besar yang tak henti-hentinya berharap akan masa depan anak-anak mereka, agar menjadi Sarjana yang berbakti. Namun di ujung kisah yang lain, tak sedikit di antara mereka yang harus berjuang sendiri mencapai derajat Sarjana itu.

Harga atas semua itu, tak akan pernah setara dengan Baju Toga yang mereka kenakan serta foto-foto besar yang secantik-cantiknya pada prosesi Wisuda mereka.

Di antara mereka, ada yang sudah tak puya Ibu dan mungkin juga tak punya ayah lagi; di antara mereka, ada yang mengalami luka-luka hidup, perih menjalani getirnya pendidikan di kampus-kampus, bekerja paruh waktu, dst.Tapi, boleh jadi, di antara mereka, ada beberapa orang yang barulah sadar bahwa betapa rindu dan besar cinta orang tua yang tak bertepi luasnya itu untuk kesuksesan, ketika hari wisuda itu datang.

Padahal, masa depan semakin tidak pasti. Negeri kita belum jua tampak “politik masa depannya” yang memihak kepada generasi barunya. Kawanan kepentingan membangun jejaring kuasanya di mana-mana.

Sarjana sejati haruslah punya pegangan. Harus punya abstraksi yang memadai yang memandunya untuk menembus banyak ruang pertumbuhan.

Doa menembus langit, Ilmu bisa menembus dunia! Tapi hanya dengan usaha dan jerih payah, melalui kehadiran Guru-Guru hebat, dengan kesungguhan belajar, dan keintiman kepada lembaran-lembaran pengetahuan melalui bacaan-bacaanlah yang membuat pena dan takdir (para) Sarjana bisa berjalan dan berputar jauh.

Keringat yang menetes dan terus menetes selama kuliah hanya akan memberi buah bagi Masa Depankalau berkah dari Guru terus menyertai langkah-langkah kalian. Buang jauh-jauh rasa puas diri, buang jauh-jauh kemalasan dan kemunafikan berilmu pengetahuan.

Teguhkan prinsip hidup dan kehormatan kesarjanaanmu.

Ilmu yang tidak mengantarkan kita mengenal apa arti benar dan salah; ilmu yang tidak membantu kita paham apa itu baik, mana yang wajar dan seperti apa itu salah, serta mana-mana yang palsu dan hipokrit, adalah ilmu yang tidak benar.

Sarjana sejati haruslah bisa belajar lebih jauh keluar dari tembok-tembok jurusan dan fakultasnya. Kampus sejati tak boleh bermental “kampung”an dengan kasta-kasta feodalisme akademis dan simbol-simbol birokrasinya.

Kita bisa sedikit berkaca kepada negara yang diakui terdepan kualitas pendidikannya di dunia, Finlandia. Mengapa negeri ini terdepan dan hebat? Satu di antara beberapa alasannya adalah karena pendidikan di Finlandia “dinilai” sebagai pendidikan yang melahirkan manusia-manusia yang mampu memaknai dan memberi arti tentang apa itu kehidupan.

Mereka hidup dengan pemikiran dan tanpa henti memikirkan dan mengerjakan hidup! Mereka mengajarkan tentang “Hari Esok” di sekolah-sekolah mereka! Guru-guru di Findlandia membawa luasan “dunia” ke dalam ruang-ruang kelas mereka!

Di Finlandia, kepada para mahasiswa dan sarjana, sejak awal ditancapkan sebuah prinsip paling fundamental. Masyarakat Findlandia sadar tentang ungkapan, “study where you can hear yourself think….” Belajarlah di tempat-tempat di mana Anda bisa mendengar, merasakan dan memastikan bahwa dirimu bisa berpikir dan memikirkan sesuatu…”.

Singkatnya, jangan pernah belajar di tempat-tempat di mana Anda tidak pernah dibantu untuk bisa berpikir! Anda harus belajar dan akhirnya sadar bahwa Anda bisa berpikir dengan yakin dan memadai. Di kampus yang benar, seperti itulah yang terjadi!(*)

Penulis adalah parner di Voice-of-HaleHepu.
Surel: basriamin@gmail.com

Tags: basri aminHarian Persepsipersepsispektrum sosialTulisan Basritulisan persepsi

Related Posts

Ahmad Zaenuri

Dari Street Justice menuju Digital Justice

Wednesday, 14 January 2026
Menelusuri Jejak Akomodasi Budaya dalam Simbolisme Masyarakat Gorontalo   

Menelusuri Jejak Akomodasi Budaya dalam Simbolisme Masyarakat Gorontalo  

Wednesday, 14 January 2026
Ridwan Monoarfa

Pemilihan Kepala Daerah dan Arah Demokrasi Kita

Monday, 12 January 2026
Basri Amin

Bupati-Bupati Kita

Monday, 12 January 2026
PETI di Boliyohuto Cs Semakin Marak, APH Apa Kabar?

PETI di Boliyohuto Cs Semakin Marak, APH Apa Kabar?

Friday, 9 January 2026
Yusran Lapananda

Tahun Baru, KUHAP Baru & KUHP Baru

Tuesday, 6 January 2026
Next Post
Ilustrasi media sosial kini menjadi "korlap" demo.-Dibuat dengan AI-

Tanpa Korlap

Discussion about this post

Rekomendasi

Ketua Yayasan Kumala Vaza Grup, Siti Fatimah Thaib, bersama pemilik dapur dan Kepala SPPG Pentadio Barat secara simbolis menyerahkan CSR kepada pihak SMP 1 Telaga Biru, Rabu (14/1/2026). (F. Diyanti/Gorontalo Post)

Dukung Program Presiden, Yayasan Kumala Vaza Grup Salurkan CSR ke 20 Sekolah

Wednesday, 14 January 2026
Irjen Pol Widodo

Kapolda Kaget PETI Dekat Mapolres, Picu Banjir di Pohuwato, Pastikan Penindakan

Thursday, 15 January 2026
Irjen Pol. Drs. Widodo, S.H., M.H

Kapolda Bakal Ratakan PETI di Pohuwato, Kaget Lihat Langsung Dampak Kerusakan Lingkungan

Thursday, 15 January 2026
Tiga pelaku kekerasan seksual di amankan Polres Bone Bolango, Kamis (15/1/2026) Foto: Natharahman/ Gorontalo Post.

Modus Pesta Miras, Tiga Pria di Bone Bolango Tega Rudapaksa Gadis Belia

Friday, 16 January 2026

Pos Populer

  • Para pejabat pimpinan tinggi pratama di lingkungan Pemprov Gorontalo yang menajalani pelantikan, berlangsung di ruang dulohupa kantor gubernur, Senin (12/1). (foto: tangkapan layar)

    BREAKING NEWS: Gusnar Lantik 25 Pejabat Pemprov, Berikut Nama-namanya

    587 shares
    Share 235 Tweet 147
  • Dukung Program Presiden, Yayasan Kumala Vaza Grup Salurkan CSR ke 20 Sekolah

    76 shares
    Share 30 Tweet 19
  • Kemendikdasmen Salurkan Laptop untuk Sekolah Dasar Dukung Digitalisasi Pembelajaran

    179 shares
    Share 72 Tweet 45
  • Excapator dan Ratusan Alat PETI Diamankan, Hasil Operasi Tim Gabungan Selama Enam Hari, Forkopimda Segera Lakukan Evaluasi

    40 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Bupati-Bupati Kita

    46 shares
    Share 18 Tweet 12
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.