Gorontalopost.co.id, LIMBOTO — Prosedur pelayanan pasien di Rumah Sakit MM Dunda Limboto dikeluhkan. Pasalnya, akibat pelayanan yang dinilai sangat berbelit-belit itu, sehingga membuat kesal pihak keluarga pasien. Mirisnya lagi, diduga akibat dari pelayanan dan penanganan pasien yang begitu lama, membuat satu pasien tak bia tertolong atau meninggal dunia.
Informasi yang dirangkum Gorontalo Post, pasien tersebut bernama Melanda Uno (25), warga Desa Duwanga, Kecamatan Dungaliyo. Korban dinyatakan meninggal dunia akibat tak tertolong, karena prosedur dan penanganan pelayanan yang sangat lama.
“Kalau sudah dilayani dengan cepat, proses transfusi darah ponakan saya tidak sampai seperti ini,” ungkap Hadijah Uno (60) selaku tante dari pasien. Kepada awak media, Hadijah Uno menjelaskan, kejadian awal yang telah merenggut nyawa keponakannya tersebut. Di mana, Melinda pada Selasa (26/11) dilarikan ke puskesmas setempat, karena mengalami panas tinggi. Kemudian dirujuk ke RSUD Dunda Limboto.
Setelah menjalani pemeriksaan, pihak rumah sakit menyampaikan bahwa kadar HB keponakannya tersebut di bawah atau tidak normal. Kemudian sekitar pukul 23.00 Wita, pihak rumah sakit memberitahukan kepada keluarga untuk mencari pendonor, sebab mereka membutuhkan 8 atau 10 kantong darah untuk ditransfusikan.
“Nah, pada malam itu juga kami sudah dapat 2 kantong darah. Kemudian kami beritahukan ke perawat, kalau boleh 2 kantung darah tersebut digunakan terlebih dahulu sambil menunggu sisanya, tapi mereka (Perawat,red) tidak mau. Maunya mereka harus 8 kantung darah,” ungkap Hadijah kepada awak media via telepon.
Lebih lanjut Ia menuturkan, keesokan harinya saat pasien sudah sangat kritis dan tinggal beberapa menit menghembuskan nafas terakhir, pihak rumah sakit menyampaikan kepada keluarga untuk mengambil 2 kantong darah yang sudah tersedia sebelumnya.
“Setelah mereka telefon dokter, dokter pun membolehkan 2 kantong darah itu untuk digunakan. Tapi sayang, ketika keluarga yang membawa darah tersebut tiba, korban telah dinyatakan meninggal dunia,” tuturnya.
Selain itu, Hadijah mengungkapkan, jika prosedurnya sudah seperti itu, pihak keluarga tidak menyesalinya. Namun sangat disesalkan, ketika sudah sangat genting, prosedurnya kembali berubah.
“Kami berharap, hal seperti ini tidak terjadi lagi, kami paham itu sudah ajal keponakan kami. Namun disaat ponakan kami minta untuk dilakukan transfusi darah, dan jawaban dari pihak rumah sakit, darah yang sudah susah-susah kami cari itu tidak bisa digunakan. Dan pada akhirnya, saat dalam keadaan genting, tiba-tiba mereka (Perawat,red) mengatakan, jika darah tersebut dapat digunakan. Tentu hal ini menjadi penyesalan besar kami kepada pihak RSUD MM DUNDA Limboto,” tutupnya.
Sementara itu Kabid Pelayanan RSUD MM Dunda Limboto, dr. Andi Naue mengaku masih akan melakukan pengecekan atas kejadian tersebut. “Masih akan kita telusuri semuanya dan saat ini masih mengumpulkan bukti-butki akurat terkait persoaan ini,” tandasnya. (Wie)










