Gorontalopost.co.id — Air sumur gali yang selama ini menjadi sumber kebutuhan sehari-hari warga ternyata menyimpan risiko pencemaran bakteri Escherichia coli (E. coli). Kondisi ini mendorong Jurusan Sanitasi Lingkungan Poltekkes Kemenkes Gorontalo turun ke masyarakat dengan menawarkan pemanfaatan bubuk daun jeruk nipis sebagai alternatif media antimikroba.
Inovasi tersebut diperkenalkan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Pemanfaatan Bubuk Daun Jeruk Nipis sebagai Media Antimikroba Escherichia coli pada Air Sumur Gali”, yang digelar di Desa Toto Selatan dan Desa Poowo Barat, Kecamatan Kabila, Kabupaten Bone Bolango, Senin (5/10/2026).
Kegiatan yang dilaksanakan melalui skema Program Kemitraan Wilayah (PKW) itu dipusatkan di Desa Toto Selatan dan melibatkan kader kesehatan dari kedua desa. Bukan sekadar penyuluhan, para kader dibekali pengetahuan mengenai kualitas air sumur gali, sumber pencemaran, risiko bakteri E. coli, hingga cara pembuatan dan pemanfaatan bubuk daun jeruk nipis sebagai media antimikroba.
Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat, Tumartony Thaib Hiola, S.Pd., M.Kes., menjelaskan, sumur gali memiliki potensi tercemar apabila konstruksi sumur, kondisi lingkungan sekitar, maupun pengelolaannya tidak memenuhi persyaratan kesehatan.
Karena itu, menurutnya, masyarakat perlu memahami bahwa kualitas air sumur tidak cukup dilihat dari kondisi fisiknya saja. Pemeriksaan kualitas air serta pengelolaan yang tepat menjadi bagian penting untuk mencegah risiko kesehatan.
“Melalui kegiatan ini, kader diberikan pemahaman mengenai sumber pencemaran air sumur gali, dampak bakteri Escherichia coli terhadap kesehatan, serta tahapan pembuatan dan pemanfaatan bubuk daun jeruk nipis sebagai media antimikroba,” jelasnya.

Kepala Puskesmas Kabila, Felmi S. Kude, SKM, mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurutnya, pelatihan ini dapat memperkuat pengetahuan kader dalam mengenali persoalan kualitas air sekaligus meningkatkan peran mereka dalam memberikan edukasi kepada masyarakat.
“Kami mengapresiasi kegiatan ini sebagai upaya menambah wawasan dan pengetahuan kader kesehatan mengenai kualitas air sumur gali serta pemanfaatan daun jeruk nipis sebagai media antimikroba. Pelatihan ini diharapkan memperkuat peran kader dalam memberikan edukasi kesehatan lingkungan kepada masyarakat,” ujarnya.
Dukungan juga datang dari Kepala Desa Toto Selatan, Suleman Hamzah, SH. Ia berharap keterlibatan Poltekkes Kemenkes Gorontalo tidak berhenti pada kegiatan tersebut, tetapi dapat berlanjut melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat.
“Kami menyambut baik pelatihan pemanfaatan daun jeruk nipis sebagai media antimikroba Escherichia coli pada air sumur gali. Kami berharap kerja sama ini terus berlanjut dan kegiatan pemberdayaan masyarakat lainnya dapat kembali dilaksanakan di Desa Toto Selatan,” katanya.
Hal senada disampaikan Kepala Desa Poowo Barat, Dahlan Ismail, SH. Ia berharap pengetahuan yang diperoleh kader dapat diteruskan kepada masyarakat untuk menjaga kualitas air sumur gali.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Tim Pengabmas Poltekkes Kemenkes Gorontalo atas pelaksanaan kegiatan ini. Semoga pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dapat dimanfaatkan oleh kader kesehatan untuk mendukung upaya menjaga kualitas air sumur gali di masyarakat,” tuturnya.
Tim pengabdian tersebut diketuai Tumartony Thaib Hiola, S.Pd., M.Kes., dengan anggota Bun Yamin Badjuka, S.Pd., M.Kes., Ruslin Hasan, S.Pd., M.Kes., dan Atyaf Umi Faizah, S.Tr.Kes.
Pelaksanaan kegiatan turut melibatkan tiga mahasiswa Poltekkes Kemenkes Gorontalo, yakni Fahrezi Agana, Yahya Ibrahim, dan Sekhina Gloria Palewa. Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian dari penerapan ilmu dan keterampilan kesehatan lingkungan secara langsung di tengah masyarakat.
Program ini sekaligus menjadi bagian dari pelaksanaan tridarma perguruan tinggi di bawah kepemimpinan Direktur Poltekkes Kemenkes Gorontalo, Masrif, SKM., M.Kes.
Melalui kegiatan tersebut, kader kesehatan diharapkan tidak hanya memahami potensi pencemaran air sumur, tetapi juga mampu meneruskan edukasi kepada warga mengenai perlindungan sumber air, pencegahan pencemaran, serta pentingnya memastikan air yang digunakan memenuhi persyaratan kesehatan.
Kolaborasi Poltekkes Kemenkes Gorontalo, Puskesmas Kabila, pemerintah desa, kader, dan masyarakat pun diharapkan menjadi langkah konkret untuk menekan risiko pencemaran air dan memperkuat kesehatan lingkungan di Desa Toto Selatan dan Desa Poowo Barat. (adv)













Discussion about this post