gorontalopost.co.id— Di tengah hiruk-pikuk jalanan kota, sosok Opa Usman (71) tampak perlahan mendorong gerobak sederhana berisi sapu lidi dan sapu ijuk, 10 April 2026 malam. Di usianya yang tak lagi muda itu, ia tetap berkeliling dari Batudaa menuju pusat kota Gorontalo demi mencari nafkah.
Dengan langkah pelan namun pasti, Opa Usman menyusuri jalanan setiap hari. Sapu-sapu yang ia jual merupakan hasil olahan dari bahan alami seperti lidi, sabut kelapa dan íjuk aren, yang diikat rapi dan disusun di atas gerobaknya. Meski terlihat sederhana, dagangan itu menjadi sumber utama penghidupannya.
“Sudah lama jualan begini, dari dulu sampai sekarang,” ujarnya singkat sambil tersenyum.
Perjalanan dari Batudaa ke pusat kota bukanlah hal ringan bagi pria lanjut usia tersebut. Teriknya matahari di siang hari hingga dinginnya malam tak menyurutkan semangatnya. Ia tetap berkeliling, menawarkan dagangannya dari satu tempat ke tempat lain, berharap ada pembeli yang membutuhkan.
Di tengah perkembangan zaman dan banyaknya produk modern, sapu tradisional seperti yang dijual Bapak Usman masih memiliki peminat tersendiri. Beberapa warga memilih sapu buatannya karena dinilai lebih kuat dan tahan lama.
Kisah Opa Usman menjadi potret nyata keteguhan seorang lansia yang tetap bekerja keras di usia senja. Di balik gerobak sederhana itu, tersimpan semangat hidup yang tak mudah padam—sebuah pelajaran tentang kerja keras, kemandirian, dan harapan yang terus dijaga. (Mg-03)











Discussion about this post