Gorontalopost.co.id, GORONTALO — Pengentasan kemiskinan masih menjadi tantangan besar bagi seluruh pemerintah daerah di Gorontalo. Pasalnya masih ada sekitar 155,76 ribu warga Gorontalo hidup miskin atau sekitar 12 persen dari total jumlah penduduk.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, persentase penduduk miskin di daerah ini sedikit mengalami penurunan. Pada September 2025, angka penduduk miskin sebesar 12,62 persen atau turun 0,62 persen poin terhadap Maret 2025.
“Jumlah penduduk miskin pada September 2025 tercatat sebesar 155,76 ribu orang atau berkurang sekitar 6,98 ribu orang dibandingkan dengan posisi Maret 2025 yakni 162,74 ribu orang,”ujar Kepala BPS Provinsi Gorontalo Dr.Watekhi.
Profil kemiskinan di Gorontalo masih memperlihatkan disparitas kemiskinan yang cukup dalam antara wilayah perkotaan dan perdesaan. BPS mencatat, selama Maret hingga September 2025 jumlah penduduk miskin di wilayah perdesaan sebesar 19,86 persen, sementara penduduk miskin di wilayah perkotaan berjumlah 4,46 persen.
Sementara untuk garis kemiskinan berada di level 519.640 per kapita per bulan. Angka ini meningkat sekitar 4,86 persen dibanding Maret 2025 sebesar 495,576 per kapita.
Konsumsi makanan juga termasuk dalam faktor pembentuk garis kemiskinan. Ada beberapa komoditas utama makanan sebagai pembentuk garis kemiskinan pada September 2025. Untuk wilayah perkotaan dan perdesaan beras menjadi komoditas utama pembentuk garis kemiskinan.
Selain beras ada juga rokok kretek filter, ikan tongkol tuna cakalang, kue basah, cabe rawit, telur ayam ras, bawang merah, daging ayam ras, gula pasir, tahu serta komoditas utama makanan lainnya dengan total sebanyak 75,12 persen.
Sementara wilayah perdesaan dengan komoditas utama yang sama selain tahu dan ditambah dengan daging ayam kampung, total sebanyak 80,43 persen. “Peranan komoditas makanan terhadap garis kemiskinan di wilayah perdesaan lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah perkotaan,”sambung Watekhi.
Watekhi menjelaskan, ada beberapa faktor yang mempengaruhi menurunnya tingkat kemiskinan di Gorontalo diantaranya adalah terjaganya daya beli masyarakat melalui pengendalian inflasi.
Angka inflasi umum Provinsi Gorontalo selama periode Maret hingga September 2025 sebesar 0,24 persen. Lebih rendah dibandingkan inflasi nasional pada periode yang sama yang tercatat sebesar 1,42 persen.
Sektor pertanian yang menjadi penopang utama perekonomian daerah ini juga turut membaik. Tercatat, nilai tukar petani (NTP) pada September 2025 sebesar 115,99 persen dibanding September 2024 yang hanya berada dipoin 111,42 persen.
Demikian pula dengan tingkat partisipasi angkatan kerja yang mengalami kenaikan. Di Agustus 2025 partisipasi angkatan kerja berjumlah 69,29 persen, atau mengalami kenaikan dibanding Februari 2025 sebesar 67,52 persen.
Faktor lainnya adalah pertumbuhan ekonomi Gorontalo pada triwulan IV tahun 2025 sebesar 6,12 persen (y-on-y) atau tumbuh sekitar 1,53 persen (q-to-q) triwulan III 2025 yang tumbuh sebesar 5,49 persen. (gp/lyd)












Discussion about this post