Gorontalopost.co.id, GORONTALO — Memasuki awal tahun 2026, ekonomi Gorontalo masih dihadapkan dengan dinamika harga kebutuhan pokok. Kenaikan harga yang cukup signifikan sangat terasa pada beberapa komoditas pangan unggulan.
Meskipun inflasi umum terkendali, namun lonjakan harga pangan bisa meningkatkan risiko melemahnya daya beli masyarakat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Inflasi tahunan (year on year) Provinsi Gorontalo di Januari 2026 menyentuh angka 4,53 persen. Sementara inflasi tahun kalender berada di level 0,28 persen.
Kepala Bagian Umum Badan Pusat Statistik Provinsi Gorontalo Dwi Alwi Astuti dalam keterangan persnya menyebut, dinamika ini dipengaruhi oleh beberapa kelompok pengeluaran. Kelompok perumahan dan energi menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan.
“Inflasi tahunan Provinsi Gorontalo didorong oleh naiknya indeks pada enam kelompok pengeluaran utama. Kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumahtangga mencatat kenaikan paling tajam sebesar 13,16 persen (year on year),”kata Dwi Alwi Astuti dalam kegiatan konferensi pers, Senin (2/2) di kantor BPS Provinsi Gorontalo.
Tarif listrik ini menurutnya secara year on year bukan disebabkan oleh tarif baru melainkan dampak perbandingan dengan kebijakan diskon tarif listrik pada januari 2025 lalu.
Dia melanjutkan, kelompok pengeluaran kedua yang menyumbang angka inflasi berasal dari kelompok perawatan pribadi dan bahan pangan. Sementara kelompok pendidikan, transportasi serta restoran menyumbang angka inflasi dikisaran 1,20 persen hingga 2,03 persen.
BPS juga mencatat adanya deflasi bulanan (month-to month) di bulan Januari 2026 sebesar 0,28 persen. Angka tersebut disumbang oleh penurunan harga pada lima kelompok pengeluaran diantaranya kelompok pengeluaran rumah tangga turun sekitar 3,74 persen.
Informasi dan Jasa keuangan turun di posisi 1,87 persen. Pakaian dan alas kaki turun 1,13 persen serta kelompok kesehatan dan rekreasi turun tipis pada angka 1 persen.
BPS menilai, secara umum inflasi Gorontalo pada januari 2026 masih berada pada kondisi terkendali. Dimana dinamika harga pangan dan kebijakan pemerintah tetap menjadi faktor utama yang akan menentukan arah inflasi daerah kedepan. (lyd)













Discussion about this post