Gorontalopost.co.id, GORONTALO — Tantangan pelayanan kesehatan jiwa menuntut perawat tidak hanya menguasai keterampilan klinik, tetapi juga memiliki empati, kematangan sikap, dan kemampuan komunikasi terapeutik.
Kebutuhan inilah yang menjadi dasar pelaksanaan Stase Keperawatan Jiwa bagi 79 mahasiswa Profesi Ners Universitas Negeri Gorontalo (UNG) angkatan 2023.
Program stase yang dilaksanakan di Rumah Sakit Jiwa Ratumbuysang Manado tersebut menjadi ruang pembelajaran langsung bagi mahasiswa dalam menghadapi kompleksitas kasus keperawatan jiwa.
Mahasiswa tidak hanya berhadapan dengan persoalan medis, tetapi juga dinamika psikososial pasien yang menuntut pendekatan humanis dan beretika.
Ketua Jurusan Keperawatan UNG, Nurdiana Djamaluddin, S.Kep., Ns., M.Kep., menyampaikan bahwa stase keperawatan jiwa merupakan fase krusial dalam pembentukan profesionalisme calon perawat.
Menurutnya, pemahaman teori saja tidak cukup tanpa pengalaman praktik yang melatih sensitivitas dan tanggung jawab terhadap keselamatan pasien.
“Mahasiswa dilatih untuk membangun komunikasi terapeutik dan mengambil keputusan keperawatan secara profesional dalam situasi nyata,” ujarnya.
Ia menambahkan, keterlibatan langsung mahasiswa dalam pelayanan kesehatan jiwa menjadi bekal penting agar lulusan profesi ners mampu merespons kebutuhan layanan kesehatan mental yang terus meningkat di masyarakat.
Sementara itu, Dekan Fakultas Olahraga dan Kesehatan UNG, Dr. Hartono Hadjarati, S.Pd., M.Pd., menilai stase ini sebagai sarana pembelajaran yang menuntut kedewasaan sikap dan integritas profesi.
Pengalaman klinik di bidang keperawatan jiwa diharapkan mampu memperkuat karakter mahasiswa sebagai perawat yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga peka terhadap kondisi psikologis pasien.
Dengan pendekatan tersebut, lulusan Profesi Ners UNG diharapkan hadir sebagai tenaga kesehatan yang profesional, humanis, dan mampu menjunjung tinggi etika keperawatan dalam praktik pelayanan kepada masyarakat. (Tr-76)













Discussion about this post