gontalopost.co.id -Di kawasan taman Menara Pakaya di Limboto, Kabupaten Gorontalo, setiap sore menjelang malam, selalu ada antrean di depan gerobak sederhana. Prayogi dan Amar(23), bisnis kuliner yang belakangan viral di media sosial. Quesillo, dessert asal Venezuela yang mereka modifikasi, jadi incaran banyak orang sejak awal desember lalu. “Kami pilih lokasi ini karena strategis, dan ada regulasi baru pemerintah yang memusatkan pedagang di sini,”ujar mereka.
Prayogi dan Amar merupakan salah satu pembisnis Quesillo ini, Ide berbisnis kuliner muncul karena mereka punya waktu luang di sore sampai malam hari. “Kami lihat ada anak muda lain yang jualan di belakang kantor bupati dan laris. Kami pikir, kenapa nggak dicoba? Lumayan kan buat nambah penghasilan,”ujar Amar. Setelah riset kecil-kecilan, mereka mantap pilih Quesillo sebagai produk andalan karena pembuatannya yang relatif mudah.
Harga yang ditawarkan sangat bersahabat. Satu slice Quesillo dijual cuma Rp15.000, sedangkan satu nampan penuh dibandrol Rp100.000 sebagai harga promo. “Kami nggak mau jual mahal. Yang penting banyak orang bisa nyobain,”kata Prayogi. Strategi harga murah ini terbukti ampuh. Ditambah lagi dengan promosi gencar lewat TikTok, gerobak mereka hampir tidak pernah sepi. Setiap malam, rata-rata tujuh nampan ludes terjual. Kalau sedang ramai, mereka bahkan bisa jual sampai sepuluh nampan.
Kunci kesuksesan mereka ada pada konsistensi konten di TikTok. Hampir semua pembeli datang setelah melihat video mereka di platform tersebut. Ada juga yang cuma lewat sambil joging, lalu penasaran dan mampir. “Kendala penjualan hampir nggak ada. Orang-orang yang datang rata-rata dari TikTok, dan kami juga rutin upload konten,” kata Amar. Tanpa modal iklan besar, bisnis mereka berkembang pesat hanya bermodalkan smartphone dan kreativitas konten.
Meski bisnis sedang naik daun, Prayogi dan Amar tetap realistis. Mereka sadar tren makanan viral biasanya tidak bertahan lama. “Kami sudah siap cari ide baru yang juga punya potensi viral. Tapi selama masih laku, ya kami maksimalkan,” Prayogi. Bagi mereka, pengalaman berbisnis ini bukan cuma soal untung rugi, tapi juga pembelajaran berharga untuk membangun usaha yang lebih besar di masa depan.(mg-24).













Discussion about this post