gorontalopost.co.id – Berawal dari keterbatasan ekonomi keluarga serta kebutuhan biaya penelitian saat menempuh pendidikan di bangku kuliah, seorang mahasiswa aktif di Gorontalo berhasil membangun sejumlah usaha kuliner yang kini berkembang pesat. Usaha tersebut meliputi Ngeteh Skuyy, Ngepukat, Ngerujakk, dan Pentol.
Salah satu brand yang paling dikenal masyarakat, Ngeteh Skuy Gorontalo, kini telah memiliki tiga cabang, termasuk kolaborasi dengan Mipangdas di Limboto, serta membuka lapangan pekerjaan bagi banyak anak muda, baik sebagai karyawan tetap maupun paruh waktu.
Owner Ngeteh Skuy Gorontalo, Fajar, mengungkapkan bahwa ide awal membangun usaha lahir dari kecintaannya terhadap teh, sekaligus dorongan kondisi ekonomi keluarga.
“Waktu semester akhir, saya butuh dana untuk melanjutkan penelitian. Karena memang suka ngeteh, akhirnya saya memberanikan diri membuka usaha. Modal awal pinjam dari teman, sementara resep dan konsep murni saya buat sendiri,” ujar Fajar.
Selain Ngeteh Skuyy sebagai usaha utama, Fajar juga mengembangkan Ngepukat yang baru berjalan sekitar dua bulan, serta merintis Ngerujakk (fokus rujak buah) dan Pentol. Seluruh usaha tersebut berada dalam satu naungan manajemen.
Meski mengaku sempat diliputi keraguan di awal merintis usaha, Fajar mengatakan rasa ragu tersebut tidak terlalu besar. Pasalnya, ia telah terbiasa berjualan sejak usia remaja.
“Sejak kelas 9 SMP saya sudah jualan. Awal kuliah juga pernah jual pentol keliling pakai motor selama enam bulan. Jadi ragu itu ada, tapi kecil,” katanya.
Menariknya, jurusan yang ia tempuh di bangku kuliah tidak berkaitan langsung dengan dunia bisnis, yakni Teknik Sipil. Namun menurutnya, dunia usaha justru lebih sesuai dengan karakter dan jiwanya.
Dalam mengelola beberapa usaha sekaligus, Fajar menyebut tantangan terbesar bukan hanya soal untung dan rugi, melainkan pengelolaan keuangan dan sumber daya manusia.
“Sebagai UMKM, yang paling berat itu mengatur arus kas, dana darurat, dan memastikan owner juga digaji. Kalau usaha sudah naik kelas dan punya karyawan, tantangannya bertambah, seperti menjaga kenyamanan kerja, jadwal, dan penerapan SOP,” jelasnya.
Saat ini, usaha yang ia kelola telah mempekerjakan sekitar delapan karyawan tetap serta sejumlah pekerja paruh waktu. Fajar juga kerap turun langsung membantu operasional ketika dibutuhkan. Baginya, usaha bukan sekadar tempat bekerja, melainkan tempat pulang.
Sebagai mahasiswa aktif yang kini tengah fokus menyelesaikan skripsi, Fajar mengaku harus pandai membagi waktu. Ia menegaskan bahwa yang dikorbankan bukan kuliah, melainkan waktu bersantai.
“Yang dipangkas itu waktu main, tidur berlebihan, dan scroll media sosial. Kuliah tetap prioritas,” ujarnya.
Berbeda dengan banyak usaha lain, bisnis yang ia bangun juga membawa misi sosial. Sebagian keuntungan direncanakan akan disalurkan untuk dunia pendidikan, termasuk turun langsung ke sekolah-sekolah yang membutuhkan bantuan.
“Bagi saya, usaha itu harus tumbuh bersama nilai dan kebermanfaatan,” tuturnya. Fajar menegaskan pentingnya mahasiswa belajar berbisnis sejak dini. “Di dunia ini semuanya tentang jualan barang, jasa, atau kemampuan. Mayoritas orang sukses adalah pebisnis,” katanya.
Ia mendorong mahasiswa agar tidak takut gagal selama masih memiliki dukungan keluarga dan lingkungan. Menurutnya, masa kuliah adalah waktu terbaik untuk mencoba, gagal, lalu belajar.
“Pohon itu tidak diperhatikan saat tumbuh, tapi saat berbuah orang akan mendekat. Sekarang adalah waktu paling aman untuk mencoba,” pungkasnya. (Mg-20)













Discussion about this post