logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
Pemkot Gorontalo

Biomasa
Home Disway

Takdir Al Khoziny

Lukman Husain by Lukman Husain
Thursday, 23 October 2025
in Disway
0
Takdir Al Khoziny
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Dahlan Iskan

 

SAYA ke Al Khoziny. Kemarin.

Duka akibat runtuhnya bangunan baru di pondok pesantren itu sudah mulai cair. Reruntuhan bangunan empat lantai yang roboh itu sudah bersih. Lokasi bangunan itu sudah jadi hamparan yang dipasangi pita polisi.

Related Post

Bom Suci

Petir Agrinas

Petir Ngambek

Petir India

Santri tingkat tsanawiyah dan aliyah (SMP dan SMA) sudah mulai belajar lagi. Pun yang kuliah S-1 maupun S-2. Tinggal yang tingkat ibtida’iyah (SD) yang masih diliburkan.

“Lebih 75 persen santri di sini berasal dari Madura,” ujar Gus Abdul Muid Mujib, salah satu pengasuh inti pondok Al Khoziny.

Pengasuh utamanya adalah KH Raden Abdus Salam Mujib. Ia putra tertua dari 12 bersaudara –enam di antaranya laki-laki. Enam laki-laki itulah yang  bersatu padu mengasuh Al Khoziny.

Gus Abdul Muid alumnus Al Khoziny. S-1 nya di Syafiiyah Jakarta. Sedang Gus Salam, si sulung, adalah alumnus pondok Sarang, Rembang. Lalu kuliah di Makkah.

Para alumnus Al Khoziny sangat aktif membantu pemulihan pasca bencana yang menewaskan 63 santri itu. Semua orang tua yang berduka  akan diberangkatkan umrah. Ke Makkah dan Madinah. Tahun depan.

Para alumni juga menggalang dana untuk menyekolahkan korban yang luka-luka sampai kelak lulus S-2.

Salah satu alumnus yang sekarang masih hidup adalah: Kiai Asep Saifuddin Chalim, pemilik pondok pesantren Amanatul Ummah di Pacet.

Pesantren kiai Asep berkembang amat cepat. Luas tanahnya lebih 100 hektare. Santrinya melebihi 30.000. perguruan tingginya sudah meluluskan S-3 beberapa angkatan.

Kiai Asep dikenal kiai paling kaya di Indonesia. Masa remaja Kiai Asep memang di Al Khoziny. Anak Majalengka, Jabar, ini dititipkan ayahnya, seorang pendiri NU, ke kiai di Al Khoziny.

Remaja Asep mandiri di situ: tidak dikirimi uang untuk hidup. Ia sering hanya bisa makan sekali sehari –itu pun tunggu sisa makanan santri yang lain.

Tokoh-tokoh ulama besar juga pernah “mondok” di Al Khoziny. Misalnya pendiri NU KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Khasbullah, dan KH Syamsul Arifin Situbondo.

Di Al Khoziny mereka tidak hanya mencari ilmu. Juga berniat mencari “berkah” –agar kecipratan kehebatan sang kiai.

Kiai Khozin, pendiri Al Khoziny, dinilai sebagai ulama yang sangat dikasihi Nabi Muhammad, otomatis sangat dikasihi Allah.

Kepercayaan itu bermula dari cerita kiai besar dari Bangkalan, KH Kholil di masa nan silam. Konon, saat Kiai Kholil naik haji ia mendapat bisikan gaib. Y

akni saat Kiai Kholil berdoa di Raudah –satu tempat dekat makam Nabi di dalam masjid Nabawi di Madinah.

Yang berbisik itu Nabi Muhammad yang jenasahnya dimakamkan di sebelah Raudah. Isi bisikan: “sampaikan salam saya ke orang bernama Khozin di Buduran, Sidoarjo”.

Pulang dari haji, Kiai Kholil tidak langsung ke Bangkalan. Ia mencari dulu orang yang bernama Khozin. Ia ke Buduran. Setelah mencari berhari-hari Kiai Kholil bertemu seseorang yang sedang menyapu halaman.

“Apakah kenal orang yang bernama Khozin?”

“Banyak yang bernama Khozin di sini. Khozin yang mana?”

“Saya mendapat amanah dari Rasulullah Nabi Muhammad untuk menyampaikan salam ke orang Buduran bernama Khozin”.

“Kalau itu yang dimaksud, berarti orang itu saya, karena saya juga mendapat pesan dari Nabi Muhammad akan ada utusan yang menemui saya”.

Saya dengarkan cerita itu dengan seksama. Saya sudah sering mendengar cerita gaib seperti itu di pesantren keluarga kami di Magetan. Sejak saya kecil. Pun tentang kakek buyut saya.

“Di mana halaman tempat beliau menyapu itu sekarang?” tanya saya.

“Bukan di komplek pondok Al Khoziny ini,” kata Kiai Abdul Muid kepada saya.

“Di mana?”

“Di halaman pondok Panji. Kira-kira dua kilometer dari sini,” ujar Gus Abdul Muid.

Awalnya Kiai Khozin ternyata sekolah di pondok Panji itu. Ini pondok tertua di kawasan itu. Didirikan tahun 1787. Pendirinya: Kiai Hamdani dari Pasuruan.

Khozin akhirnya diambil menantu oleh kiai Hamdani. Bahkan dikirim ke Makkah untuk memperdalam ilmu agama. Santri lain yang juga diambil menantu adalah Hasyim Asy’ari dari Tebuireng, Jombang.

“Istri Kiai Khozin dan Kiai Hasyim Asy’ari meninggal muda. Dua santri andalan itu dikawinkan lagi dengan adik-adik almarhum istri masing-masing,” ujar Kiai Abdul Muid. Berarti Kiai Khozin dan Kiai Hasyim Asy’ari dua kali berstatus ipar.

Kiai Hasyim lantas memimpin pondok pesantren Tebuireng, Jombang –menurunkan Gus Dur dan Gus Irfan, menteri haji saat ini.

Kiai Khozin ditugaskan mendirikan pondok tidak jauh dari Panji. Yakni di lokasi Al Khoziny sekarang ini. Itu tahun 1910. Belum ada madrasahnya. Masih berupa padepokan. Itu lebih awal dari catatan sejarah berdirinya Al Khoziny, tahun 1920.

Dalam sejarah panjangnya itu sekarang inilah era kemajuan tertinggi Al Khoziny. Total santrinya sekitar 3.000 orang –dari SD sampai S-2.

Kemajuan itu jauh melampaui ketersediaan lahan yang diwariskan. Tidak sampai setengah hektare. Di sekitarnya pun tumbuh rumah-rumah kampung yang padat.

Harga tanah di situ sudah terlalu mahal untuk lokasi pendidikan. Buduran sudah menjadi daerah industri di antara Surabaya dan Sidoarjo.

Lahan pesantren itu memang bertambah, tapi secara sangat pelan. Belum tentu rumah di dekat pesantren mau dibeli.

Akhirnya dibangunlah gedung-gedung baru yang berimpitan. Apalagi semua santri Al Khoziny harus mukim –berasrama. Bukan hanya ruang belajar yang diperlukan. Juga ruang asrama untuk hampir 3.000 santrinya.

Masjidnya pun tidak seperti umumnya masjid di pondok pesantren. Tidak ada lahan untuk masjid. Fungsi masjid itu berada di lantai bawah dari bangunan empat lantai.

Daya tampungnya hanya enam baris –sekitar 30 orang per baris. Sangat tidak mencukupi. Akhirnya jamaah meluber sampai halaman.

Halaman itulah yang belakangan ingin diisi bangunan baru empat lantai. Agar masing-masing lantai menyambung dengan bangunan lama. Bangunan baru itu jauh lebih besar dari yang “enam baris” tadi. Salatnya bisa tambah 20 baris lagi.

Lantai satu, dua, tiganya sudah selesai dibangun setahun lalu. Lantai terbawahnya untuk tambahan “enam baris” tadi. Lantai dua dan tiga masih kosong. Tunggu lantai empatnya dicor semen –sekaligus jadi atapnya.

Bulan lalu dana untuk mengecor atap itu tersedia. Dilakukanlah pengecoran. Selesai. Begesting belum dibuka. Tunggu cor semennya kering.

Salat lima waktu tetap diadakan di lantai bawah. Sudah tidak enam baris lagi. Sudah hampir 30 baris. Selalu penuh. Belum cukup. Terutama kalau untuk salat maghrib, isya, dan subuh. Di tiga waktu salat itu semua santri wajib salat bersama.

Sedang untuk salat duhur dan asar, tidak wajib berjamaah. Maka ketika sore itu dilakukan salat asar, lantai bawah itu tidak penuh.

Maka ketika bangunan baru itu roboh, yang enam baris di depan semuanya selamat. Termasuk imam salat, seorang ponakan kiai. Bangunan lama itu tidak terpengaruh sama sekali.

Sampai di mana gerakan salat asar itu ketika bangunan runtuh?

“Sudah rakaat keempat. Sedang posisi sujud. Jenazah yang ditemukan ada yang dalam posisi sujud,” ujar Kiai Abdul Muid.

Salah seorang santri, katanya, merasakan seperti ada gempa kecil sebelum bangunan itu roboh. Mungkin badan pemantau gempa bisa mengecek apakah ada gempa kecil pada jam-jam sebelum itu.

Saya bisa membayangkan alangkah sulitnya tim evakuasi melaksanakan tugasnya hari itu. Bangunan yang roboh itu dijepit bangunan-bangunan lain.

Di baratnya ada “bangunan enam baris” yang tidak roboh. Bagian selatannya bangunan-bangunan empat lantai. Timur dan utaranya rumah-rumah tinggal enam bersaudara kiai di situ.

Mungkin perlu ada pemikiran baru: menatap ulang tata bangunan di pondok ini. Membangun kembali memang penting tapi menata ulang tidak kalah penting.

Kiai Asep adalah teladan yang sempurna: pindah lokasi ke kawasan yang cocok untuk pendidikan. Apalagi akses dari jalan raya ke Al Khoziny sangat tidak memadai.

Saya harus memutar dulu, lalu jalan kaki menaiki jembatan darurat di atas sungai yang kotor, masih pula harus menyusuri gang yang sempit.

Memang sudah menjadi ciri pondok pesantren untuk menerima keadaan apa adanya. Itu bagian dari ajaran ikhlas. Termasuk menerima musibah besar kemarin sebagai bagian dari takdir. (*)

Tags: Catatan Harian DahlanDahlan IskanDiswayHarian Dahlanharian diswayTulisan Dahlan

Related Posts

Ilustrasi Joao Angelo de Sousa Mota dan misi besarnya untuk Koperasi Desa Merah Putih.--

Petir Agrinas

Monday, 2 March 2026
Ilustrasi penyerangan Israel-Amerika Serikat ke Iran.--

Bom Suci

Monday, 2 March 2026
dr Joao Angelo De Sousa Mota --

Petir Ngambek

Friday, 27 February 2026
Agrinas terlanjur memesan Mobil Pikap Impor Pabrikan Mahindra asal India dan 1.000 unit di antaranya telah berlabuh di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara-Istimewa-

Petir India

Thursday, 26 February 2026
Dwi Sasetyaningtyas.--LinkedIn Dwi Sasetyaningtyas

WNI WNI

Wednesday, 25 February 2026
--

Kolegium MK

Tuesday, 24 February 2026
Next Post
DAIFEST - Daihatsu Gorontalo memberikan peluang memenangkan ratusan hadiah bagi pelanggan yang membeli mobil produk Daihatsu diakhir tahun ini. (foto: jitro paputungan / gorontalo post)

Daihatsu Gran Max Paling Laris di Gorontalo, Dukung Pengembangan Pelaku Usaha

Discussion about this post

Rekomendasi

PK Ormawa dan P2MW Jadi Senjata FSB UNG Kejar Prestasi Nasional

PK Ormawa dan P2MW Jadi Senjata FSB UNG Kejar Prestasi Nasional

Monday, 2 March 2026
Logo Majelis Ulama Indonesia

MUI Desak RI Keluar dari BoP, Kecam Serangan Amerika-Israel ke Iran

Monday, 2 March 2026
Basri Amin

Jejak “Islam Gorontalo” di Nusantara

Monday, 2 March 2026
Truk odol saat diamankan petugas karena melanggar ketentuan angkutan barang.

Kapolda Gorontalo Amankan Truk ODOL, Cegah Potensi Kecelakaan dan Kerusakan Infrastruktur

Monday, 2 March 2026

Pos Populer

  • Ilustrasi--

    Kasus PETI Saripi Jadi ‘Bola Pingpong’, Berkas Perkara Dikembalikan Kejati ke Polda

    44 shares
    Share 18 Tweet 11
  • Petir Ngambek

    43 shares
    Share 17 Tweet 11
  • THR PPPK-PW, Dana Cukup, Pemda Boleh Cairkan

    39 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Adhan Ancam Tinggalkan Gerindra, Terkait BSG Sesalkan Fraksi di Deprov Tak ‘Bertaji’

    53 shares
    Share 21 Tweet 13
  • THR Tunggu Presiden Pulang, Menkeu Sebut Presiden yang Umumkan

    34 shares
    Share 14 Tweet 9
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.