logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
Pemkot Gorontalo

Home Disway

Mate Ningde

Lukman Husain by Lukman Husain
Tuesday, 7 November 2023
in Disway
0
Huawei Mate 60 Pro.--

Huawei Mate 60 Pro.--

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Dahlan

Iskan

 

Sudah 10 kota saya datangi.

Related Post

Amang Waron

Reflek Radjimin

Gagal Sukses

Jane Moses

Sudah 10 toko saya tanya.

Jawabnya sama: tidak bisa. Itu hanya bisa dipandang, bisa dipegang, tapi tidak bisa dibeli.

Maka tebakan Anda pun salah: saya tidak ganti HP baru. Apalagi Huawei Mate 60 Pro.

Di Tianjin, Beijing, Nanchang, JiAn, Fuzhou, Xianyou, Putian, Fuqing, Quanzhou, Ningde, Xiamen dan di kota mana pun, Huawei baru itu memang banyak dipajang.

Menggiurkan. Rasanya HP lama yang sudah remuk di empat pojoknya ini digugat ke MK saja. Tapi di kota-kota di empat provinsi itu jawabnya sama: stok habis.

”Kapan habis?”

”Di satu minggu pertama penjualan”, jawab mereka.

Ampun larisnya.

”Kapan stok yang baru tiba?”

”Belum tahu”.

”Satu minggu lagi? Dua minggu lagi?”

”Belum tahu”.

Pun setelah tiga minggu di Tiongkok. Jawabnya masih sama. Ya…sudah.

Saya tidak ahli HP. Hanya bisa pakai. Itu pun terbatas untuk WA, WeChat, YouTube, IG, foto, video, menghitung jarak antar kota, dan yang terpenting untuk menulis naskah.

Pun kalau ada gangguan saya masih harus panggil siapa saja yang mungkin: Nicky, Pipit, Ayrton, Icha..

Maka di toko-toko Huawei tadi saya tidak mencoba-coba. Hanya lihat-lihat: ada Mate 60, Mate 60 Pro, dan yang bisa dibuka untuk dapat layar lebih lebar.

Lalu lihat harganya. Mahal juga: Rp 27 juta.

Di antara 10 kota itu hanya dua yang baru kali pertama saya datangi: Xianyou dan Ningde. Dua-duanya di provinsi Fujian.

Yang satu kota kecamatan. Satunya lagi kabupaten.

Xianyou letaknya di pegunungan. Ningde di dekat pantai –pegunungan pinggir pantai.

Saya hanya satu jam di Xianyou: menikmati alam pegunungannya. Rencana makan siang di Xianyou batal. Masih terlalu pagi.

Perjalanan dari Fuzhou ke Xianyou ternyata hanya satu jam.

Saya menyesal tidak menghitung berapa puluh gunung yang harus diterobos terowongan. Berapa puluh celah yang harus dibangun jembatan.

Rasanya inilah kali pertama perjalanan satu jam melewati terowongan terbanyak. Kalau 50 saja lebih. Baru keluar gunung sudah masuk gunung lagi.

Ada yang jaraknya tidak sampai 50 meter. Begitu sering saya lihat: keluar dari gunung langsung jembatan tinggi.

Berarti jembatan itu bermula di gunung, berakhir di gunung. Memang di antara gunung-gunung itu celahnya berupa jurang yang dalam.

Awalnya saya berpikir: bagaimana orang zaman dulu bisa keluar dari Xianyou untuk merantau sampai Nusantara. Betapa jauh perjalanan keluar dari gunung-gunung ini.

Betapa sulit perjalanan itu. Lalu: bagaimana orang dulu bisa hidup dari alam seperti ini. Maka wajar kalau mereka merantau.

Apalagi zaman itu bebas: tidak ada batas negara, bahkan yang disebut negara pun belum ada. Tidak perlu paspor. Tidak perlu visa. Tidak perlu KTP. Di mana ada bumi di situ bebas dipijak.

Saya teringat begitu banyak teman saya di Surabaya yang keturunan Xianyou. Mereka punya paguyubanXianyou. Sampai ada yang rebutan jadi pengurus.

Jalan tol Fuzhou-Xianyou ini luar biasa. Bagaimana ada jalan di pegunungan tapi relatif lurus.  Tidak terlalu belok-belok. Tidak naik turun.

Yang tinggi diterobos terowongan, yang rendah dibangun jembatan.

Pun tidak ada lereng gunung yang dikepras. Tidak ada jalan yang melingkar dengan cara memotong tebing. Kalau toh harus di pinggir tebing dibuatkan jalan layang di tebing itu.

Kota kecamatan Xianyou begitu beruntung. Dilewati jalan tol. Lebarnya pun tiga lajur.

Tentu kota Xianyou di sela-sela gunung. Di sehamparngarai yang tidak luas. Tapi banyak sekali bangunan pencakar langitnya. Mengalahkan kota besar sekelas Makassar.

Saya mampir pula ke kota lamanya. Di pinggir sungai. Kanan-kiri sungai sudah dibangun taman. Banyak yang bermain di situ. Ada taman olahraganya pula.

Lalu saya ke toilet umum di taman itu. Saya pede. Pasti sudah tidak seperti toilet masa lalu. Apalagi toilet ini kelihatannya dibangun bersamaan dengan pembangunan taman.

Saya kaget: toilet ini memang tidak lagi jorok, tapi bau busuknya masih luar biasa. Mengingatkan saya pada bau toilet Tiongkok 30 tahun lalu. Hampir saja pingsan.

Ternyata masih ada yang seperti ini. Mungkin karena Xianyou di pedalaman. Dan ini toilet umum.

Besoknya ketika perjalanan dari Fuzhou ke Quanzhou saya minta mampir rest area. Bukan karena ingin buang air, tapi sekadar membanding-bandingkan baunya.

Saya kaget: bukan saja bersih dan tanpa bau. Juga indah dan cukup mewah. Toiletnya pun dua jenis: jongkok dan duduk.

Di Xianyou saya jalan-jalan di kota lamanya. Yang sudah berbentuk blok-blok ruko yang padat. Saya beli buah di situ: anggur, buah tin kering, zaitun segar, apel mini, dan strawberry.

Di depan toko buah ini ada penjual tebu lonjoran. Di pinggir jalan. Laris. Harganya bukan perbatang tapi pakai ditimbang. Bayarnya pakai barcode.

Dari Xianyou saya tidak kembali ke Fuzhou. Saya pilih ke Putian, ibukota kabupaten Xianyou. Putian di pinggir pantai. Ingin lihat terminal gas. Sekalian makan siang.

Jalan meninggalkan Xianyou itu ternyata beda sekali. Hanya lewat dua terowongan. Lebih datar. Rupanya lewat sinilah orang zaman dulu mencapai laut.

Dari Putian mereka bisa ke utara, ke pelabuhan di utara Fuzhou, untuk merantau ke Asia Tenggara. Atau dari Putian ke selatan, keQuanhou dulu. Lalu ke Nusantara.

Yang lebih banyak ke Amoi dulu lalu ramai-ramai ke seluruh Nusantara. Kini kota pelabuhan Amoi bernama Xiamen.

Saya ke Xianyou juga untuk memanfaatkan waktu tunggu. Saya punya janji ke Ningde. Bertemu bos besar di sana. Ia masih dalam perjalanan internasional ke Ningde.

Dari Fuzhou ke Ningde pilih naik kereta cepat yang bukan Gaotie. Kecepatannya 200 km/jam. Ke arah utara. Ke arah kota Wenzhou –di Provinsi Zhejiang.

Anda sudah tahu Wenzhou: kampungnya bos besar pabrik nikel terbesar di Morowali, Sulawesi Tenggara.

Ningde memang bertetangga dengan Wenzhou. Anda juga sudah tahu Ningde. Di kabupaten inilah pabrik baterai lithium terbesar di dunia: CATL.

Ningde mengingatkan saya ke kota Bima di Sumbawa Timur. Kotanya sama-sama berada di teluk yang amat dalam. Teluk itu menjorok masuk jauh ke lekuk pegunungan. Indah sekali.

Teluk itu terancam pendangkalan oleh muara sungai. Maka di bagian itulah dilakukan reklamasi. Luas sekali. Murah sekali. Tinggal ambil sedikit tanah dari gunung di dekatnya.

Sekalian untuk pengendalian air muara sungai.

Itu juga yang sejak lama saya usulkan untuk Bima. Untuk mengatasi kepadatan kota. Sekaligus pengendalian banjir. Ningde ternyata sudah melakukannya.

Sampai bisa undang investor kelas dunia.

Kota Ningde memang dibentengi gunung dan pegunungan. Belakangan ditemukan berbagai kekayaan tambang di dalamnya.

Berbagai bahan baku industri hulu ada di situ. Air terjun pun tak terhitung jumlahnya.

Maka banyak pembangkit listrik tenaga air dibangun diNingde. Kini mencapai lebih dari 3000 MW. Pabrik baja pun bisa dibangun. Dapat listrik murah.

Juga listrik yang mampu menerima tekanan beban pengecoran.

Di hilirnya lagi dibangun galangan kapal besar.

Belakangan, muncul yang lebih hilir lagi: baterai lithium.

Presiden Xi Jinping pernah jadi ketua partai di kabupaten ini. Lalu naik jadi ketua partai di provinsi Fujian. Dua periode.

Naik lagi jadi ketua partai di provinsi yang lebih besar: Zhejiang. Juga dua periode. Naik lagi ke kota terbesar: Shanghai. Lalu jadi wakil presiden.

Akhirnya Anda tahu: ia jadi presiden. Kini periode ketiga pula.

Di tiap jenjang itu prestasinya luar biasa. Ekonomi provinsi Fujian tumbuh sekitar 18 persen selama 10 tahun berturut. Ekonomi Zhejiang tumbuh sekitar 20 persen selama Xi Jinping di sana.

Begitu panjang perjalanan karirnya. Begitu tinggi prestasinya.

Sayang masih juga ada toilet seperti di Xianyou.(*)

Tags: Catatan Harian DahlanDahlan IskanDiswayharian disway

Related Posts

--

Amang Waron

Tuesday, 13 January 2026
Ilustrasi kondisi seseorang vegetatif.--

Reflek Radjimin

Monday, 12 January 2026
Zohran Mamdani ke Bronx, menandatangani kebijakan di jalanan Sedgwick Avenue didampingi Tascha Van Auken.-crainsnewyork-

Gagal Sukses

Tuesday, 6 January 2026
Ilustrasi Robert Moses dan Jane Jacobs--Savingplaces

Jane Moses

Monday, 5 January 2026
Jumaane Williams (kiri) Zohran Mamdani dan Mark D. Levine.--

Tiga Serangkai

Sunday, 4 January 2026
--

Bintang 2025

Wednesday, 31 December 2025
Next Post
MENTAL JUARA : Para pebalap astra honda yang memenangkan Asia Road Racing Championship (ARRC) 2023 seri ke lima di Zhuhai, China. (foto : dok / ahm)

CBR250RR Produksi AHM Jawara Asia di ARRC 2023

Discussion about this post

Rekomendasi

Tiga pelaku kekerasan seksual di amankan Polres Bone Bolango, Kamis (15/1/2026) Foto: Natharahman/ Gorontalo Post.

Modus Pesta Miras, Tiga Pria di Bone Bolango Tega Rudapaksa Gadis Belia

Friday, 16 January 2026
Isra Mi’raj dan Pembangunan Masjid Raya

Isra Mi’raj dan Pembangunan Masjid Raya

Sunday, 18 January 2026
Irjen Pol Widodo

Kapolda Kaget PETI Dekat Mapolres, Picu Banjir di Pohuwato, Pastikan Penindakan

Thursday, 15 January 2026
Lodrik Dantene Kepala Desa Londoun, Kecamatan Popayato Timur, Kabupaten Pohuwato. Saat di wawancarai

Ekonomi Masyarakat Desa Londoun Meningkat, Tenaga Kerja Banyak Diserap PT BJA

Wednesday, 21 February 2024

Pos Populer

  • Ketua Yayasan Kumala Vaza Grup, Siti Fatimah Thaib, bersama pemilik dapur dan Kepala SPPG Pentadio Barat secara simbolis menyerahkan CSR kepada pihak SMP 1 Telaga Biru, Rabu (14/1/2026). (F. Diyanti/Gorontalo Post)

    Dukung Program Presiden, Yayasan Kumala Vaza Grup Salurkan CSR ke 20 Sekolah

    79 shares
    Share 32 Tweet 20
  • BREAKING NEWS: Gusnar Lantik 25 Pejabat Pemprov, Berikut Nama-namanya

    590 shares
    Share 236 Tweet 148
  • Modus Pesta Miras, Tiga Pria di Bone Bolango Tega Rudapaksa Gadis Belia

    47 shares
    Share 19 Tweet 12
  • Kemendikdasmen Salurkan Laptop untuk Sekolah Dasar Dukung Digitalisasi Pembelajaran

    188 shares
    Share 75 Tweet 47
  • Kapolda Kaget PETI Dekat Mapolres, Picu Banjir di Pohuwato, Pastikan Penindakan

    34 shares
    Share 14 Tweet 9
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.