logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Disway

Pajak Roket

Lukman Husain by Lukman Husain
Saturday, 22 October 2022
in Disway
0
Bencana Sapura

DISWAY

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh

Dahlan Iskan

PUTIN memang belum berhasil menjatuhkan Presiden Ukraina Zelenskyy. Tapi Presiden Rusia itu sudah sukses menjatuhkan sekaligus dua perdana menteri Inggris: Boris Johnson dua bulan lalu dan Liz Truss dua hari lalu.

Maka Liz telah membuat sejarah: perdana menteri dengan masa jabatan terpendek. Hanya 45 hari. Itu pun terpotong masa berduka 10 hari. Yakni ketika Ratu Elizabeth meninggal dunia.

Setidaknya Liz telah mencoba mencari pilihan lain dalam membangun kebijakan ekonomi Inggris. Maunyi Liz, ekonomi Inggris berubah cepat. Meroket. Dia akan menjadi pembeda dari pemimpin lain sebelumnya dari partainyi.

Sudah tiga periode ini ekonomi di bawah pemerintahan Partai Konservatif begitu-begitu saja. Padahal partai ini, di awal kekuasaannya di tahun 2010-an, tampil sangat bagus. Rakyat memilih Partai Konservatif karena pemerintahan Partai Buruh gagal memperbaiki ekonomi akibat krisis 2008.

Related Post

Sel Janin

Bagi Hasil

Perjudian Besar

Kanan Dalam

Partai Buruh sendiri dipilih rakyat dengan cara yang sama: tahun 1998. Yakni ketika partai Konservatif dianggap gagal memperbaiki ekonomi akibat krisis moneter di tahun itu.

Pokoknya, rakyat Inggris itu akan memilih partai yang bisa membuat kehidupan ekonomi mereka lebih baik. Maka setelah beberapa pemilu memilih partai Konservatif ganti memilih Partai Buruh. Sampai beberapa pemilu berikutnya. Lalu balik ke Konservatif lagi.

Tapi ketika Liz mengundurkan diri ini belum ada tanda-tanda rakyat akan pindah lagi ke Partai Buruh. Partai pemerintah masih akan berusaha mengganti Liz dari dalam partai. Kalau saja usaha itu mentok barulah diadakan pemilu.

Anda sudah tahu apa yang menyebabkan Liz lengser dari kursi perdana menteri: kurs mata uang Inggris merosot dalam waktu sekejap dan diikuti naiknya suku bunga bank secara drastis.

Semua itu akibat program Liz yang secara orasi sangat menggiurkan: potong pajak, ekonomi booming.

Pajak itu harus rendah. Agar dunia usaha semangat. Ekonomi pun bisa bergairah. Lalu meroket.

Pertanyaan dari pasar sederhana. Jawabnyi juga sederhana.

Pertanyaan itu, mungkin juga pertanyaan Anda: kalau pajak dipotong pendapatan negara pasti turun. APBN-pun defisit. Dari manakah Liz akan menutup kekurangan penerimaan itu?

Jawaban Liz juga sederhana: dari utang, cari utangan. Bagi Inggris mencari pinjaman tidak sesulit Kliwon. Maka persoalan pun selesai.

Selesai?

Tidak.

Justru kacau balau.

Mendengar kata ”utang” itu pasar uang merespons dengan sangat negatif. Pound sterling, mata uang Inggris, merosot drastis. Terhadap dolar dan Euro dan lainnya.

Dampak ikutannya Anda sudah tahu: Bank Sentral Inggris harus menaikkan suku bunga sangat tinggi.

Geger.

Maka rakyat yang baru saja dapat keringanan harga energi ditimpa oleh mahalnya cicilan rumah. Rakyat ibarat mendapat uceng tapi kehilangan deleg. Saya hafal pepatah itu. Saya tahu maksudnya: dapat kecil, kehilangan besar. Tapi saya tidak tahu apa sebenarnya arti uceng dan apa arti deleg.

Liz memang sempat membuat gebrakan yang menyenangkan rakyat di awal masa jabatannyi. Dia melakukan caping terhadap harga energi. Agar harga gas, listrik, dan bensin tidak liar. Semua itu akibat Putin menyerang Ukraina.

Sebelum perang, satu rumah tangga menghabiskan gas dan listrik sekitar 100 pound sebulan. Sekarang ini menghabiskan sekitar 170 pound. Itulah pengalaman teman Disway yang tinggal di London. Sudah lebih 15 tahun.

Kalau Liz tidak meng-cap harga energi pengeluaran itu bisa sampai 300 pound.

Dengan demikian, kata Liz, kalau harga gas melonjak di atas cap, pemerintah yang menanggungnya. Lewat subsidi energi. Lagi-lagi Inggris bisa berutang.

Tapi semua itu berantakan. Gara-gara kata ”utang” itu pasar uang tidak percaya pada pemerintahan Liz. Terutama kepada ”menko” perekonomiannya, Kwasi Kwarteng.

Kwartenglah yang mengumumkan kebijakan Liz, ”pajak rendah, tumbuh tinggi”. Kelihatannya Kwarteng inilah yang ngotot dengan konsep itu. Dasarnya sangat ilmiah. Ia pakai teori ekonomi trickle down effect. Ia memang doktor ekonomi. Lulusan universitas paling hebat di dunia: Oxford.

Teori itu pula yang dilakukan Presiden Donald Trump. Dinilai berhasil di sana. Ekonomi Amerika bergairah saat itu. Utang Amerika bertambah. Tidak banyak rakyat yang protes. Pasar uang juga bisa menerimanya. Kurs dolar baik-baik saja.

Tapi tidak di Inggris. Mungkin karena peran pound sterling tidak sedominan dolar Amerika di pasar dunia.

Kebijakan ”pajak rendah, tumbuh tinggi” itu berakibat sebaliknya di Inggris. Pound jatuh. Suku bunga naik. Rakyat yang baru saja senang dapat subsidi energi tercekik di cicilan rumah. Ibaratnya, kata sahabat Disway di London tadi, ”rakyat dapat subsidi 200, harus bayar 600”. “Sama saja bo’ong,” kata Wanita Disway.

Akhirnya Liz panik. Dia copot Kwarteng. Padahal itu teman baiknya. Sejak lama. Kwarteng pendukung Liz yang setia. Tapi jabatan Liz terancam. Apa boleh buat. Teman harus dikorbankan.

Kwarteng adalah ilmuwan-politisi kulit hitam. Ayahnya imigran dari Ghana. Ia begitu hebat sampai dipercaya menjabat pimpinan ekonomi Inggris. Sayang, tidak sampai dua bulan. Ia diganti ekonom kulit putih Jeremy Hunt.

Pejabat baru itu membatalkan hampir semua kebijakan Kwarteng. Balik kucing. Pasar kembali tenang. Tapi pound belum bisa langsung menguat. Suku bunga juga tidak bisa langsung turun. Naik hampir selalu lebih cepat daripada turun. Kecuali bagi Teddy Minahasa.

Reputasi Liz pun hancur. Dia dianggap menjadikan rakyat Inggris sebagai kelinci percobaan. Memalukan Inggris di mata dunia. Mulailah ada suara agar dia mundur.

Sebenarnya Liz ingin bertahan. Tapi ada bencana susulan. Menteri dalam negerinyi mendadak mengundurkan diri. Wanita. Muda, 42 tahun. Namanyi: Suella Braverman. Dia wanita keturunan India. Ibu orang Tamil dari Mauritius. Ayah dari Gowa. Dia ilmuwan hukum. Anggota DPR. Mantan Jaksa Agung Inggris.

Satu lagi jabatan sangat penting Inggris di bawah Liz dipercayakan pada tokoh kulit berwarna: menteri luar negeri. Yakni James Cleverly. Di Inggris partai Konservatif lebih berwarna dibanding Partai Buruh. Kebalikan dengan di Amerika Serikat.

Begitu Mendagri Suella, mundur kabinet guncang. Padahal alasan mundurnyi sepele untuk ukuran kita: dia mengirim draf peraturan menteri lewat alamat email pribadinyi. Di Inggris itu dianggap penyalahgunaan jabatan yang amat serius. Hanya alamat email.

Tapi memang tidak hanya itu. Dalam surat pengunduran dirinyi, Suella juga mengkritik habis Liz soal balik kucing pemerintahannyi.

Selanjutnya Anda sudah tahu sendiri: Liz mengundurkan diri. Siapa penggantinyi agak rumit. Suella pernah ikut bersaing untuk jabatan perdana menteri, tapi tersisih di babak awal. Mungkin saja tokoh keturunan India lainnya yang akan naik: Rishi Sunak. Hari itu, Rishi sudah bersaing ketat dengan Liz sampai di babak akhir. Siapa tahu kali ini Rishi Sunak yang akan jadi perdana menteri Inggris. Luar biasa. (*)

Tags: Dahlan IskanDisway

Related Posts

--

Sel Janin

Monday, 15 June 2026
--

Bagi Hasil

Monday, 15 June 2026
Ilustrasi pertaruhan masa depan ekonomi Indonesia di antara berbagai sistem ekonomi.--

Perjudian Besar

Wednesday, 10 June 2026
Saya pikir itu rumor lama yang di-posting ulang di medsos: Chatib Basri akan jadi menteri keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa. Ternyata beda. Di rumor lama hanya berhenti sampai Chatib Basri jadi menkeu. Yang beredar sekarang ini ada lanjutannya: Purbaya dapat tugas baru sebagai gubernur Bank Indonesia. Tentu saya tahu Chatib Basri: Ia pernah jadi menteri keuangan di akhir masa jabatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Saya juga mengikuti banyak karya tulisnya. Ia ekonom tulen. Ia hampir sama dengan Sri Mulyani tapi ada bedanya. Mereka sama-sama ekonom Universitas Indonesia tapi punya jalan berbeda setelah itu. Sri Mulyani produk Amerika. Chatib Basri ekonom lulusan Australia (the Australian National University, sebuah kampus riset di Canberra). Tulisan yang paling menyentak dari Chatib Basri diterbitkan di Kompas di akhir masa jabatan Presiden Jokowi. Sebenarnya cara Chatib menulis sudah sangat hati-hati tapi kejujuran yang muncul dari tulisan itu sangat menyentak: selama 10 tahun terakhir jumlah kelas menengah Indonesia mengalami penurunan sebanyak delapan juta orang. Itulah kali pertama ada ekonom yang melihat bahwa gemerlap ekonomi selama pemerintahan Jokowi ternyata menyimpan kenyataan pahit seperti itu. Pertumbuhan lima persen per tahun ternyata tidak membuat pendapatan per kapita rakyat Indonesia bisa mencapai angka USD5.000. Merosotnya jumlah kelas menengah itu sekaligus mengungkapkan sisi gelap pertumbuhan: siapa yang tumbuh. Kalau benar Chatib Basri akan menjadi menteri keuangan, sebenarnya seirama saja dengan misi Presiden Prabowo yang tampak sekarang. Sebenarnya banyak juga yang bimbang: biar pun pertumbuhan pendapatan per kapita kita amat-amat lambat, ekonomi Indonesia masih tergolong baik. Setidaknya lumayan. Lalu mengapa Presiden Prabowo berani mengubah yang sudah lumayan itu sampai membuat ekonomi terguncang begini berat –khususnya di kurs rupiah dan bursa saham? Salah satu jawabannya adalah tulisan Chatib Basri itu tadi: jumlah kelas menengah tidak boleh turun. Justru harus naik. Pendapatan per kapita tidak boleh berhenti di USD5.000. Itu bisa membuat Indonesia terjebak seperti diuraikan dalam teori "jebakan kelas menengah". Hanya saja sudah sangat jelas bahwa Chatib Basri adalah ekonom pro-pasar bebas. Ia belajar mendalam teori ekonomi seperti Keynesian, Monetarist, maupun Austrian School. Tapi ia bukan 100 persen pengikut aliran itu. Chatib masih percaya bahwa negara harus ikut campur dan mengarahkan. Maka kalau pun Chatib Basri itu tergolong aliran kanan, ia seorang pemain kanan dalam –bukan kanan luar murni seperti David Beckham atau Luis Vigo. Chatib itu seperti Johan Cruyff di tim juara dunia Belanda entah tahun berapa itu. Masalahnya: apakah Chatib Basri mau seandainya ditawari jabatan itu. Sebagai ekonom kanan, Chatib pastilah penganut disiplin fiskal yang ketat. Harus disiplin anggaran. Apakah Chatib bisa berada di bawah Presiden Prabowo yang begitu banyak punya keinginan dan semua keinginannya itu memakan biaya sangat besar. Sebelum ia mau menerima jabatan, apakah orang kampus murni seperti Chatib berani minta waktu bertemu Presiden Prabowo. Bukan sekadar bertemu tapi berdiskusi. Sebenarnya saya ingin orang seperti Chatib tampil di pemerintahan. Terutama kalau Purbaya punya hambatan fisik –yang diberitakan kian kurus badannya. Chatib sudah punya pengalaman menjabat menteri keuangan. Ia tidak bisa lagi disebut orang kampus murni. Ilmunya pernah diterapkan di kebijakan. Ia ikut mengatasi krisis keuangan yang berat di tahun 2008-2009. Juga saat Amerika melakukan pengetatan moneter. Tapi memang harus terjadi diskusi dulu dengan Presiden Prabowo: apa saja yang akan ia lakukan, dan apakah itu bisa diterima oleh Presiden. Rasanya Presiden akan bisa menerima pemikiran baru karena beliau seorang intelektual --salah satu ciri intelektual adalah menjunjung tinggi kebenaran sejak dari berpikirnya. Apalagi kenyataan ekonomi yang dihadapi Presiden Prabowo sekarang sudah lebih buruk dari saat beliau menerima jabatan itu. Tentu dalam diskusi itu tidak harus ada yang kalah dan yang menang. Chatib Basri juga harus mendengar dasar-dasar pemikiran ekonomi presiden. Keduanya punya asumsi yang sama: sama-sama ingin ada perubahan agar Indonesia terhindar dari jebakan kelas menengah. Siapa tahu muncul ''kemenangan baru'': keinginan Presiden Prabowo tetap bisa terealisasikan tanpa harus terjadi keguncangan. Guncangan sudah telanjur terjadi. Tapi masih bisa diselamatkan. Saya termasuk yang ingin perubahan itu terjadi tapi juga tidak ingin terjadi guncangan yang berat. Dalam istilah saya di depan ribuan pengusaha di Batu, Malang, beberapa bulan lalu: Silakan pengusaha besar tidak perlu lagi dibantu tapi jangan diganggu. Saya berharap Chatib Basri mau menerima tawaran itu. Secara pribadi mungkin ia rugi. Terutama keluarganya. Apalagi risiko jadi pejabat publik di zaman ini amat berat. Clean saja tidak cukup. Harus clean and clear. Jabatan ini bisa membuat badan kurus, tidur sangat kurang, apalagi perhatian kepada keluarga. Tapi keluarga besar Indonesia menunggunya. Hanya jiwa pengabdian yang tinggi yang membuatnya mau –seperti seseorang dulu yang mati-matian tidak mau jadi dirut PLN sampai ada yang bilang: kelistrikan negara harus diselamatkan. Sekarang bukan hanya kelistrikan yang perlu diselamatkan. Tapi ekonomi seluruh negara.(

Kanan Dalam

Tuesday, 9 June 2026
--

Neo Pop

Monday, 8 June 2026
Lewat Pasrah

Lewat Pasrah

Saturday, 6 June 2026
Next Post
Gagal Ginjal, Menkes Sebut Ada Obatnya Tapi Impor

Gagal Ginjal, Menkes Sebut Ada Obatnya Tapi Impor

Discussion about this post

Rekomendasi

Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail bersama Dirut Perum Bulog Letjen TNI (Purn) Ahmad Rizal Ramadhani, menyerahkan bantuan pangan di Desa Tabongo Timur, Kabupaten Gorontalo, Kamis (18/6). (foto: dok-pemprov)

Prabowo Kirim Bantuan Pangan untuk Gorontalo, Menyasar 170 Ribu Warga, Pemerintah Pastikan Stok Pangan Aman

Friday, 19 June 2026
Sebuah pohon berukuran besar tumbang dan menutup akses Jalan Husin Bilondatu yang menghubungkan Desa Mongolato dan Desa Bulila, Kecamatan Telaga, Kabupaten Gorontalo, Rabu (17/6/2026)

Tertimpa Pohon Tumbang, Booth Jualan dan Pagar SMANSA Telaga Rusak

Friday, 19 June 2026
Seorang lansia yang ditemukan warga hilang arah di wilayah Pentadio Barat Kabupaten Gorontalo diantarkan petugas kepolisian ke rumah keluargannya.

Warga Temukan Lansia Hilang Arah di Pentadio Barat

Friday, 19 June 2026
Pos Terpadu yang disediakan di Bandara Djalaluddin Gorontalo untuk pelayanan di gerbang utama kedatangan Peserta PENAS XVII.

Amankan Kedatangan Peserta PENAS XVII, Bandara Djalaluddin Siapkan Pos Terpadu

Friday, 19 June 2026

Pos Populer

  • Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail bersama saat menghadiri pelantikan pengurus Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai NasDem Provinsi Gorontalo yang dipimpin Rachmat Gobel di Grand Palace Convention Center, Rabu (17/6/2026).

    Dilantik Kembali Pimpin NasDem Gorontalo, Rachmat Gobel Ajak Kader Bergerak dan Berkarya

    20 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Dukung Edukasi Jurnalis dan Pelajar, Dirreskrimsus Polda Gorontalo Kupas Tuntas UU ITE dan Hak Cipta

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Prabowo Kirim Bantuan Pangan untuk Gorontalo, Menyasar 170 Ribu Warga, Pemerintah Pastikan Stok Pangan Aman

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Tertimpa Pohon Tumbang, Booth Jualan dan Pagar SMANSA Telaga Rusak

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Warga Temukan Lansia Hilang Arah di Pentadio Barat

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.