logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
Pemkot Gorontalo

Home Disway

Kongres Lahan

Jitro Paputungan by Jitro Paputungan
Friday, 17 December 2021
in Disway
0
Kongres Lahan
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Rambo Batman

Omon Kenyataan

Amang Waron

Reflek Radjimin

 Oleh 
Dahlan Iskan

——————

SEBENARNYA marah nggak sih Presiden Jokowi ke Buya Anwar Abbas?

Medsos merilis video yang beredar luas. Temanya: Presiden men-skak Buya Abbas sampai lima kali. Pidato Presiden hari itu dipotong-potong. Diambil bagian-bagian tertentu. Sebagai bukti skak pertama sampai skak kelima.

Sebelum potongan-potongan skak itu, ditampilkan potongan sambutan Buya Abbas di acara tersebut –Kongres Ekonomi Umat Islam ke-2 pekan lalu.

Dari potongan itu kesannya kuat: Buya Abbas mengkritik keras pemerintah langsung di depan Presiden. Yakni soal penguasaan 59 persen tanah oleh hanya 1 persen warga negara.

Saya pun menghubungi Buya Abbas kemarin. “Kalau saya kok tidak merasa Bapak Presiden marah kepada saya,” ujarnya. “Apakah mungkin karena saya orang Padang? Sehingga perasaan saya beda dengan orang Jawa?” tambahnya.

Kongres Ekonomi Umat Islam itu merupakan acara Majelis Ulama Indonesia (MUI). Kongres pertama berlangsung tahun 2017.

Hari itu, mestinya Dr Anwar Abbas tidak tampil memberi sambutan. Ketua Umum MUI KH Miftachul Akhyar –yang juga Rais Aam PB-NU– yang akan berpidato. “Menjelang berangkat ke sana saya mendapat telepon dari sekjen MUI. Ia bilang ketua umum berhalangan hadir,” ujar Buya Abbas. “Saya, sebagai wakil ketua umum, harus menggantikan beliau,” tambahnya.

Buya sebenarnya lebih senang kalau berpidato tanpa teks. Karena di acara itu ada presiden ia harus membatasi diri. “Saya putuskan membuat teks pidato,” katanya.

Tapi waktu untuk membuat teks tidak cukup. Tidak bisa juga dibuat di perjalanan. Sopirnya lagi sakit. Buya harus setir sendiri mobil Kijang Innova-nya.

Maka, setiba di tempat acara, Buya berhenti dulu di tempat parkir –di basemant Hotel Sultan dekat Semanggi, Jakarta. Ia membuat teks pidato di situ. Di HP-nya. Mesin mobil dibiarkan terus hidup agar AC tetap menyala.

Buya tidak perlu buka-buka data. Ia putuskan untuk mengemukakan soal keadilan ekonomi. Mumpung di depan pengambil kebijakan tertinggi. Ia ingat pertemuannya dengan Menteri Agraria Dr Sofyan Jalil. Ia pernah bertanya: berapa indeks tanah kita. Sang menteri, menurut Buya, menjawab jelas: 0,59. Itu berarti 1 persen warga negara menguasai tanah 59 persennya.

Menurut Buya, itu simbol ketidakadilan ekonomi yang sangat nyata. Sebagai doktor ekonomi Buya banyak membaca buku ekonomi. Termasuk yang ditulis ahli-ahli ekonomi dari Barat. Ia setuju dengan teori bahwa ekonomi itu tidak dikendalikan oleh politisi atau cendekiawan atau lainnya. Ekonomi itu dikendalikan oleh yang menguasai ekonomi.

Buya lahir di Guguak 8 Koto, tidak jauh di timur Bukittinggi. Sampai SMA masih di sana. Lalu kuliah di IAIN Ciputat, Jakarta –kini Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Lalu ambil S-2 manajemen. Ambil lagi S-2 ekonomi Syariah di Universitas Muhammadiyah Jakarta. Buya balik ke UIN untuk mengambil S-3 bidang pemikiran Islam.

Giliran Presiden Jokowi memberi sambutan terjadilah yang tidak biasa –meski pernah juga seperti itu. Presiden mengatakan bahwa sebenarnya ia sudah dibuatkan teks pidato. “Ini…”, katanya sambil mengacungkan kertas teks itu. Tapi ia memutuskan untuk berbicara tanpa teks.

Presiden langsung merespons apa yang dikemukakan Buya Abbas. Bahwa terjadinya penguasaan tanah seperti itu bukan ia yang tanda tangan. Maksudnya, itu terjadi sejak sebelum masa jabatannya sebagai presiden pengganti Susilo Bambang Yudhoyono.

Presiden menegaskan justru ia akan menertibkannya. Ia akan mencabut izin-izin penguasaan lahan besar yang tidak sesuai dengan aturan.

Tanah yang diambil kembali oleh negara itu akan dibagikan kepada siapa pun. Yang mengajukan proposal yang baik. Termasuk kepada Anwar Abbas kalau ia mau mengajukan proposal dimaksud.

Gaya dan mimik Presiden –saat berpidato itu– memang serius. Tidak salah kalau ada yang menafsirkan Presiden lagi marah. Tapi memang belum tentu marahnya pada Anwar Abbas. Bisa kepada siapa saja.

Yang jelas presiden hari itu mendapat panggung yang tepat untuk menjelaskan semua itu. Harusnya presiden berterima kasih mendapat umpan yang cantik. Bukankah apa yang dikemukakan Buya itu sudah jadi isu nasional? Yang memang harus diklarifikasi? Kapan lagi presiden dapat waktu menjelaskannya secara tepat dan luas selain di situ?

“Saya sama sekali tidak merasa presiden marah kepada saya,” ujar Buya.

Ia menunjukkan dua kejadian setelah pidato itu. Yakni ketika ia minta presiden mau berfoto bersama pimpinan MUI. “Suasananya enak sekali,” katanya.

Demikian juga ketika acara selesai. Presiden sudah meninggalkan tempat. Sudah menuju mobil. Waktu itu Buya tidak ikut mengantar. “Sudah terlalu banyak yang ingin mengantar,” katanya. Buya pilih duduk lagi di ruang acara.

Sesaat kemudian seorang ajudan presiden mendatanginya. Presiden ingin bertemu Buya Abbas. Maka, setengah berlari, Buya mendatangi presiden yang sudah berdiri di samping mobil kepresidenan.

Di situ presiden mengulangi lagi apa yang disampaikan di podium. Agar umat Islam mengajukan proposal untuk mendapat lahan 40.000 sampai 50.000 hektare.

Buya mengiyakan permintaan Presiden. Lalu mereka siap-siap berfoto bersama. Bertiga. Posisi Buya di tengah. Presiden di kanan. Menteri agama di kiri.

Saat itulah menteri agama minta agar posisi untuk foto diubah: Presiden yang harus di tengah. Tokoh sentral ya adalah presiden.

Tapi Presiden tidak mau berubah posisi. Saya yang tetap di tengah. “Presiden sendiri yang menghendaki agar posisi saya tetap di tengah,” ujar Buya.

Buya pun kagum dengan sikap Presiden seperti itu. “Peristiwa itu benar-benar menunjukkan kerendahan hati Bapak Presiden,” kata Buya.

Buya mengharapkan agar pengusaha dari kalangan Islam menyambut baik tawaran presiden itu. “Sudah ditawari presiden sampai seperti itu. Jangan sampai tidak ada yang mengajukan,” pintanya.

Buya, 65 tahun, adalah pensiunan pegawai negeri. Ia dosen di UIN Jakarta. Awalnya saya memanggilnya profesor. Beliau menolak. “Saya bukan profesor. Tahun 1999 pangkat saya memang sudah 4A. Tapi ketika pensiun di tahun 2020 pangkat saya tetap 4A,” katanya.

Waktu remaja Buya pernah menanam singkong. Di tanah orang tua di atas bukit. Luasnya sekitar 1.000 meter. Gagal. Menjelang panen singkong itu dicuri orang. Letak kebun itu memang jauh dari rumah: sekitar 1 Km.

Setelah ditelusuri yang mencuri adalah orang yang dikenal baik oleh Buya-kecil. Ia ternyata masih punya utang ke ibunya. Berarti orangnya miskin sekali. Akhirnya dibiarkan saja dicuri.

Buya sudah menulis dua buku: yang satu, hasil disertasi doktornya tentang pemikiran ekonomi Wapres Bung Hatta. Yang kedua, tentang pemikiran Wapres Ma’ruf Amin. Menjelang pencalonan menjadi wapres. Judulnya: Ma’ruf Amin Way. Isinya: sorotan terhadap kegagalan teori menetes ke bawah (teori Trickle-Down Effect).

Meski tokoh Muhammadiyah ternyata Buya menulis buku tentang tokoh NU. Begitu dekat hubungan keduanya. “Lho waktu Kiai Ma’ruf jadi Ketua Umum MUI, kan saya yang jadi sekjen,” katanya.

“Tapi sejak beliau jadi wapres saya belum pernah bertemu,” katanya.

Itu sudah watak Anwar. Tidak mau dekat dengan orang yang lagi punya kedudukan tinggi. Pun ketika orang itu teman dekatnya. “Waktu Pak Amien Rais jadi ketua MPR saya tidak pernah ke rumahnya,” katanya.

Tidak mau masuk politik?

“Orang seperti saya tidak cocok di politik. Yang kalau sedekah pun tidak bisa ikhlas,” katanya.

Seminggu sebelum Kongres, beredar kabar di medsos. Akan ada tokoh Islam yang ditangkap terkait terorisme. Inisial tokoh itu AA. “Pasti akan banyak yang terkejut nanti,” tulis medsos itu.

“Pernah mendengar kabar akan ditangkap?” tanya saya.

“Pernah, lucu sekali,” katanya.

Apakah Buya akan mengajukan proposal untuk mendapat lahan itu? Seperti yang secara serius disampaikan Presiden?

“Saya tidak mungkin. Saya ini tidak punya uang,” katanya. (Dahlan Iskan)

Anda bisa menanggapi tulisan Dahlan Iskan dengan berkomentar http://disway.id/. Setiap hari Dahlan Iskan akan memilih langsung komentar terbaik untuk ditampilkan di Disway.

Tags: Catatan DahlanDahlan IskanDiswayKongres Lahan

Related Posts

Zohran Mamdani saat mengumumkan kebijakan barunya, kali ini soal ojek online di New York.--

Omon Kenyataan

Monday, 19 January 2026
--

Rambo Batman

Monday, 19 January 2026
--

Amang Waron

Tuesday, 13 January 2026
Ilustrasi kondisi seseorang vegetatif.--

Reflek Radjimin

Monday, 12 January 2026
Zohran Mamdani ke Bronx, menandatangani kebijakan di jalanan Sedgwick Avenue didampingi Tascha Van Auken.-crainsnewyork-

Gagal Sukses

Tuesday, 6 January 2026
Ilustrasi Robert Moses dan Jane Jacobs--Savingplaces

Jane Moses

Monday, 5 January 2026
Next Post
BPSK Pohuwato Target Sosialisasi Hingga ke Desa 

BPSK Pohuwato Target Sosialisasi Hingga ke Desa 

Discussion about this post

Rekomendasi

Dari 21 wanita dan waria yang dilakukan pemeriksaan, dua diantaranya positif sifilis.

Terjaring Razia, Dua Orang Positif Sifilis

Monday, 19 January 2026
Tiga tersangka kasus dugaan PETI Hutino, diserahkan kepada pihak Kejaksaan beserta barang buktinya atau tahap dua oleh pihak penyidik Reskrim Polres Pohuwato.

Tiga Tersangka PETI di Hutino Segera Diadili

Monday, 19 January 2026
Isra Mi’raj dan Pembangunan Masjid Raya

Isra Mi’raj dan Pembangunan Masjid Raya

Sunday, 18 January 2026
Kajari Kota Gorontalo Bayu Pramesti, S.H., M.H., bersama jajarannya berpose di momen silaturahmi dengan rekan-rekan media/wartawan, jurnalis, aktivis, dan LSM, Rabu, (14/1/2026). (Foto: Istimewa)

Kejari Kota Tegas Perangi Korupsi, Gandeng Wartawan Dukung Informasi Penyimpangan Keuangan

Monday, 19 January 2026

Pos Populer

  • Ketua Yayasan Kumala Vaza Grup, Siti Fatimah Thaib, bersama pemilik dapur dan Kepala SPPG Pentadio Barat secara simbolis menyerahkan CSR kepada pihak SMP 1 Telaga Biru, Rabu (14/1/2026). (F. Diyanti/Gorontalo Post)

    Dukung Program Presiden, Yayasan Kumala Vaza Grup Salurkan CSR ke 20 Sekolah

    80 shares
    Share 32 Tweet 20
  • Terjaring Razia, Dua Orang Positif Sifilis

    54 shares
    Share 22 Tweet 14
  • Tiga Tersangka PETI di Hutino Segera Diadili

    37 shares
    Share 15 Tweet 9
  • Modus Pesta Miras, Tiga Pria di Bone Bolango Tega Rudapaksa Gadis Belia

    50 shares
    Share 20 Tweet 13
  • Kemendikdasmen Salurkan Laptop untuk Sekolah Dasar Dukung Digitalisasi Pembelajaran

    192 shares
    Share 77 Tweet 48
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.