Gorontalopost.co.id — Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail angkat bicara terkait antrian Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Ia bicara saat menerima puluhan pengemudi yang tergabung dalam Ikatan Pengemudi Bentor (IPB) di halaman Rumah Jabatan Gubernur, Kamis (15/10/2026).
Kata Gubernur Gusnar, kuota BBM jenis Pertalite di Gorontalo setiap harinya sebanyak 478 kiloliter (KL). Jatah itu terbilang normal dan cukup untuk memasok 33 SPBU se-Gorontalo dan dua SPBU di Bintauna dan Boroko, Provinsi Sulawesi Utara. Sementara solar hanya 8KL per hari untuk 20 SPBU.
“BBM ini kami evaluasi, memang terjadi keterlambatan pasokan. Kurang lebih 10 jam sehingga rantainya terganggu. Kedua, ada dua SPBU yang disanksi tidak bisa menjual karena menjual galon/jeriken. Ini kita duga menyebabkan SPBU lain antri,” jelas Gusnar.
Lebih lanjut kata Gubernur Gusnar, hari ini pihaknya sudah mengambil keputusan untuk meminta tambahan kuota BBM ke BPH Migas. Alasannya, ini sudah memasuki akhir tahun dengan aktivitas meningkat serta Gorontalo dinilai sudah cukup berhemat soal kuota sejak awal tahun.
“Kuota itu ditetapkan pertahun dan disalurkan dicicil. Saya tadi subuh sudah ambil keputusan, Pak Wardoyo (Kadis ESDM) siang ini sudah akan mengirim surat. Semua daerah sama dengan kita, tapi upaya kita lakukan,” Bebernya.
Gubernur Gusnar berharap ada tambahan sekitar tiga hingga lima persen kuota harian di Gorontalo. Angka itu dinilai lebih dari cukup memenuhi kebutuhan BBM hingga akhir tahun.
“Saya sudah banyak melihat di televisi Bali sudah minta tambahan kuota. Malah ketua DPR RI sudah bersuara minta tambahan di sana. Begitu ya Pak Kepala DEPO, nanti kalo ditanya kenapa minta-minta terus, bilang aja sudah Pak Gubernur yang minta,”terangnya.
ANTREAN MULAI TERURAI
Sementara itu, antrean BBM di sejumlah SPBU di Provinsi Gorontalo mulai berangsur normal. Langkah cepat Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail yang memerintahkan percepatan jadwal pengiriman BBM mulai membuahkan hasil, dengan pelayanan SPBU yang lebih awal dan pengawasan distribusi yang semakin diperketat.
Kepala Dinas Tenaga Kerja, ESDM dan Transmigrasi Provinsi Gorontalo, Wardoyo Pongoliu, menjelaskan bahwa sebelumnya pengiriman BBM ke SPBU dimulai sekitar pukul 05.00 WITA. Kondisi ini menyebabkan proses kedatangan dan pembongkaran BBM berlangsung bersamaan dengan meningkatnya aktivitas masyarakat dan kepadatan lalu lintas.
Menindaklanjuti kondisi tersebut, Gubernur Gusnar Ismail memerintahkan agar distribusi BBM dimulai pukul 01.00 WITA, sehingga pembongkaran dapat dilakukan lebih awal dan SPBU diharapkan siap melayani masyarakat mulai pukul 05.00 WITA. Kebijakan ini terutama ditujukan bagi SPBU di dalam Kota Gorontalo dan sekitarnya agar pelayanan lebih lancar pada pagi hari.
Efektivitas langkah tersebut mulai terlihat dari pemantauan Satgas BBM pada 12 SPBU, Rabu (14/10). Meski antrean masih ditemukan di beberapa lokasi, kondisi berangsur membaik. Pertamina juga memastikan stok BBM tersedia dan pasokan terus dijaga untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Selain mempercepat distribusi, Gubernur juga mendorong penguatan pengawasan penyaluran BBM bersubsidi. Pemeriksaan penggunaan QR Code diterapkan sesuai ketentuan, sementara dugaan pengisian berulang menggunakan sepeda motor bertangki modifikasi menjadi perhatian untuk ditertibkan.
Ketentuan mengenai batas pengisian maksimal tujuh liter per hari serta pemeriksaan dokumen kendaraan perlu dilaksanakan berdasarkan aturan dan kewenangan yang berlaku. Di sisi lain, realisasi kuota BBM bersubsidi yang dilaporkan mendekati 80 persen menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Gorontalo.
Untuk mengantisipasi kebutuhan hingga akhir 2026, Gubernur Gusnar Ismail akan mengusulkan tambahan kuota kepada BPH Migas. Langkah ini diharapkan dapat menjaga kesinambungan pasokan sekaligus memastikan masyarakat tetap memperoleh pelayanan BBM secara tertib dan lancar. (tro/*)














Discussion about this post