Gorontalopost.co.id, GORONTALO – Nilai Tukar Petani (NTP) Gorontalo melonjak 10,89 persen pada September 2026, dari 130,20 pada Agustus menjadi 144,38. Kenaikan ini menjadi yang tertinggi di antara 14 provinsi di kawasan Indonesia timur, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo.
Lonjakan tersebut terutama ditopang subsektor tanaman hortikultura. Namun, kenaikan NTP belum dinikmati seluruh subsektor pertanian. Sejumlah subsektor justru mengalami penurunan. Secara regional, NTP meningkat di 11 dari 14 provinsi di Indonesia timur. Gorontalo mencatat kenaikan tertinggi, sedangkan Maluku Utara mengalami penurunan terdalam sebesar 1,05 persen.
Berita resmi statistik yang dirilis BPS Provinsi Gorontalo menjelaskan, kenaikan NTP Gorontalo dipengaruhi meningkatnya indeks harga yang diterima petani atas hasil produksinya (It), meskipun indeks harga barang dan jasa yang dibayar petani (Ib) juga naik.
Pada September 2026, indeks harga yang diterima petani tercatat 191,31, meningkat 14,79 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan ini menunjukkan harga yang diterima petani secara agregat bergerak lebih kuat dibandingkan biaya yang mereka keluarkan.
Dari sisi subsektor, indeks harga yang diterima petani meningkat pada tanaman hortikultura sebesar 94,61 persen, tanaman pangan 3,36 persen, dan perikanan 3,05 persen. Sebaliknya, indeks tersebut turun pada tanaman perkebunan rakyat sebesar 1,42 persen dan peternakan 1,03 persen.
Pergerakan NTP juga memperlihatkan perbedaan kondisi antarsektor. NTP tanaman hortikultura melonjak 90,51 persen. Sementara itu, NTP tanaman pangan turun 0,07 persen, tanaman perkebunan rakyat 5,27 persen, peternakan 4,54 persen, dan perikanan 1,25 persen.
Di sisi lain, kenaikan harga yang dibayar petani turut menjadi perhatian. Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) Gorontalo naik 5,09 persen pada September 2026. Kenaikan tertinggi terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mencapai 7,75 persen.
Kondisi ini menunjukkan bahwa lonjakan NTP secara keseluruhan berjalan beriringan dengan kenaikan pengeluaran rumah tangga petani. Karena itu, kenaikan NTP perlu dibaca bersama perkembangan harga yang diterima petani dan biaya hidup yang mereka tanggung. (tro)














Discussion about this post