Gorontalopost.co.id, GORONTALO — Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Gorontalo mulai mengarahkan lulusannya untuk tidak hanya bergantung pada peluang kerja di sektor pemerintahan.
Pasalnya, keterbatasan pengangkatan Aparatur Sipil Negara (ASN) menjadi salah satu tantangan yang dihadapi lulusan pendidikan tinggi kesehatan.
Hal itu disampaikan Direktur Poltekkes Kemenkes Gorontalo, Masrif, S.KM., M.Kes, usai pelaksanaan Sidang Terbuka Senat Poltekkes Kemenkes Gorontalo dalam rangka Wisuda ke-XXIV, Rabu (30/9). Dalam wisuda tersebut, sebanyak 203 mahasiswa dari lima program studi resmi dikukuhkan sebagai lulusan.
“Untuk hari ini kita mewisuda 203 wisudawan dari lima prodi, minus Prodi Kebidanan karena belum ada yang mengikuti uji kompetensi,” ujar Masrif saat diwawancara wartawan Gorontalo Post

Lima program studi yang meluluskan mahasiswa dalam wisuda kali ini yakni Farmasi, Gizi, Sanitasi Lingkungan dan Keperawatan di lingkungan Poltekkes Kemenkes Gorontalo.
Menurut Masrif, tantangan utama yang akan dihadapi lulusan adalah keterbatasan lapangan kerja di sektor pemerintah melalui mekanisme pengangkatan ASN, termasuk CPNS maupun PPPK.
Karena itu, lulusan didorong untuk melihat peluang kerja yang lebih luas, khususnya pada sektor swasta yang tetap berkaitan dengan pelayanan kesehatan sesuai kompetensi masing-masing.
“Bagaimana alumni itu bisa terserap bukan hanya mengandalkan sektor pemerintah, tetapi juga di sektor swasta yang tetap berkontribusi kepada pelayanan kesehatan sesuai dengan koridor kompetensi,” jelasnya.
Peluang tersebut, lanjut Masrif, dapat ditemukan di berbagai fasilitas kesehatan, seperti rumah sakit swasta, pusat layanan kesehatan hingga pengembangan layanan homecare.
Selain pasar kerja dalam negeri, Poltekkes Kemenkes Gorontalo juga mulai menyiapkan lulusan untuk dapat bekerja di luar negeri. Menurutnya, kebutuhan tenaga kesehatan, khususnya perawat dan bidan, masih membuka peluang kerja yang cukup luas di sejumlah negara.
Salah satu langkah yang dilakukan yakni melalui kerja sama dengan mitra untuk memberikan pembekalan bahasa dan budaya kerja kepada calon tenaga kesehatan yang akan bekerja di luar negeri.
“Untuk tahap pertama kita mendidik 20 orang. Mereka diberikan pelatihan kurang lebih 100 hari, dibiayai dan dipersiapkan untuk siap bekerja,” katanya.
Masrif mengatakan, kerja sama tersebut menjadi bagian dari strategi Poltekkes Kemenkes Gorontalo dalam memperluas akses kerja lulusan. Selain Jepang, pihaknya juga tengah mempersiapkan peluang kerja ke sejumlah negara lainnya seperti Arab Saudi dan Jerman.
Di sisi lain, peningkatan kompetensi mahasiswa juga menjadi perhatian kampus. Selain memenuhi standar kompetensi nasional, mahasiswa diberikan keterampilan tambahan melalui berbagai pelatihan di luar kurikulum.
Menurut Masrif, pembekalan tambahan tersebut penting agar lulusan memiliki keterampilan yang lebih sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
“Kita mempersiapkan mereka supaya bisa unggul. Bukan hanya dalam konteks bahasa, tetapi upaya yang lebih nyata, tentunya menyiapkan skill-nya yang di atas rata-rata,” tuturnya.
Ia menambahkan, Poltekkes Kemenkes Gorontalo juga terus memperkuat kemitraan dengan pemerintah daerah maupun pihak swasta untuk memperluas peluang penyerapan lulusan.
Masrif menyebut, berdasarkan data internal yang dimiliki, tingkat serapan lulusan Poltekkes Kemenkes Gorontalo berada di kisaran 58 persen. Dengan jumlah 203 wisudawan tahun ini, pihaknya berharap sebagian besar lulusan dapat terserap dalam waktu enam bulan hingga satu tahun setelah wisuda.
“Harapannya 203 wisudawan hari ini punya garis yang berbeda dalam upaya menciptakan atau meraih cita-cita mereka ke depan,” pungkasnya. (Adv/Tr-76)













Discussion about this post