CUKUP lama tak bersua, tetapi namanya saya sebut-sebut indah dua minggu lalu, Rabu 24 Desember 2025 di Limboto. Di hadapan beberapa aktivis PMII Gorontalo yang datang di sebuah diskusi akhir tahun KNPI.
Asep Sabar (1970—2026).
Satu di antara aktivis Mahasiswa Manado (1992—1997) yang saya kenang karena diteror berulang di awal Reformasi. Kekerasan fisik pernah menandai jejak juangnya, di sekitar kampus Unsrat. Ia berkiprah di PMII, dekat dengan Benny Rhamdani, Taufik Madjid, Hamid Bula, dst –dengan aktivis dari Maluku Utara sangat dekat.
Sebelum sekian tahun ke Jawa dan ke kota-kota lain (di) Nusantara untuk melebarkan sayap kekaryaan dan aktivismenya. Ia tak banyak bicara. Tulisannyalah yang selalu tersebar di media.
Sejak awal mengenalnya, ia selalu membawa pena, kertas dan notes kecil. Goresan tangannya selalu indah, halus, dan cermat. Pribadinya juga bersih, rapi, dan tertib.
Gorontalo dan riwayat pembangunan serta politik kepemimpinannya di periode 2001—2005, direkam, dicermati, dan ditulis dengan baik oleh Asep Sabar.
Ia menilik dengan jeli perkembangan Gorontalo di tahun-tahun awalnya yang menentukan –setelah menjadi Provinsi otonom. Ia menulis tentang pemikiran Fadel Muhammad dengan sangat jeli, simpati, dan mengesankan.
Ia, adalah penulis dengan tradisi “laporan dari lapangan…” Ia, bahkan berani menggunakan kata “baku cungkil” dan tutuhiya, ketika harus mendorong keterbukaan dan objektivitas dalam menilai gagasan dan praktik pembangunan Gorontalo di awal 2000-an.
Kang Asep, sahabat terbaik yang saya kenal…Anda telah kembali kepadaNYA dengan kemuliaan dan penghambaan…Seperti Anda maknai setiap kali menulis Wallahul muwafiq ila aqwamith thariq
Selebihnya, Anda telah meninggalkan banyak tulisan dan pelukisan kenyataan, entah di Manado, tentang Kotamobagu, dan terutama apa-apa yang terjadi di Gorontalo. ***
Basri Amin –
Hepuhulawa












Discussion about this post