Gorontalopost.co.id, GORONTALO — Di tengah tantangan zaman dan perubahan sosial yang kian cepat, sekelompok perempuan muda dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bogor, menghadirkan gagasan segar tentang pentingnya peran perempuan dalam membangun bangsa.
Mereka menuliskannya dalam sebuah buku berjudul Perempuan Berdaya Membangun Generasi Dikdaya, karya kolektif yang memadukan semangat intelektual, empati sosial, dan kepedulian terhadap masa depan Indonesia.
Buku tersebut digagas oleh Kohati HMI Cabang Bogor di bawah kepemimpinan Fauzia Noorchaliza Fadly Tantu, perempuan asal Manado, kelahiran 18 Mei 2000. Lulusan S1 Biologi ini kini juga aktif sebagai fungsionaris PB HPMIG dan Ketua Umum Kohati HMI Cabang Bogor.
“Buku ini adalah mega program kami. Kami ingin mengangkat isu-isu perempuan dari sudut pandang yang lebih luas, bukan hanya melihat perempuan sebagai individu, tetapi sebagai bagian dari ruang hidup dan lingkungan sosialnya,” ujar Fauzia saat ditemui usai kegiatan Dinas PPPA Provinsi Gorontalo, di Grand Q, Kamis (16/10/2025)
Dalam buku tersebut, berbagai tema penting dibahas dengan pendekatan reflektif dan ilmiah. Beberapa di antaranya adalah tentang perempuan di garis krisis iklim, perempuan sebagai penggerak ekonomi, peran perempuan dalam bidang pertanian dan peternakan, dunia yang ramah anak dan perempuan, serta refleksi menjadi perempuan pejuang.
Melalui tema-tema tersebut, para penulis ingin menegaskan bahwa perempuan bukan sekadar objek pembangunan, tetapi juga penggerak dan pelaku utama di berbagai sektor.
“Dalam isu krisis iklim misalnya, perempuan sering menjadi korban paling terdampak, terutama yang tinggal di wilayah pesisir atau hutan. Tapi di sisi lain, perempuan juga memiliki potensi besar sebagai penjaga keberlanjutan lingkungan,” jelas Fauzia.
Buku ini juga menyoroti pentingnya pengakuan terhadap peran perempuan dalam ekonomi dan pertanian. Selama ini, kontribusi perempuan di sektor-sektor tersebut sering luput dari perhatian, padahal perannya sangat vital. “Kami ingin menunjukkan bahwa perempuan bukan hanya konsumen, tetapi juga penggerak ekonomi yang berdaya,” tambahnya.
Fauzia menuturkan, ide penulisan buku ini lahir dari keprihatinan atas cara pandang terhadap perempuan yang sering kali sempit. Isu perempuan kerap dibahas dalam lingkup personal, padahal ada ruang hidup yang lebih luas di mana perempuan berjuang. “Kami ingin perempuan sadar bahwa mereka punya peran besar dalam menjaga keseimbangan sosial, ekonomi, dan lingkungan,” katanya.
Dalam pandangan Fauzia, perempuan adalah tiang negara sekaligus episentrum peradaban. Ia mengutip pepatah lama yang menyebutkan bahwa jika perempuannya baik, maka negara pun akan baik. “Perempuan adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Dari perempuan yang sehat, cerdas, dan berdaya, akan lahir generasi yang tangguh,” tuturnya.
Istilah dikdaya yang digunakan dalam judul buku diambil dari Kamus Besar Bahasa Indonesia yang berarti “tidak terkalahkan”. Namun, bagi Fauzia dan rekan-rekannya, dikdaya dimaknai sebagai ketangguhan.
“Kami tidak ingin disebut tidak terkalahkan dalam arti sombong, tapi tangguh dalam arti kuat, mandiri, dan tidak mudah menyerah. Indonesia butuh generasi seperti itu — bukan generasi stroberi yang rapuh,” ujarnya dengan senyum lebar.
Proses penulisan buku ini berlangsung selama enam bulan, dimulai pada Februari dengan tahap sosialisasi, dilanjutkan pelatihan penulisan pada Maret dan April, lalu proses penyusunan esai ilmiah pada Mei hingga Juli. Buku dicetak pada Agustus, memperoleh ISBN di bulan September, dan resmi diluncurkan pada 28 September 2025.
Sebanyak 21 penulis terlibat dalam proyek ini, terdiri dari 17 kader aktif dan 4 alumni HMI. Buku tersebut juga mendapat sambutan dari tokoh-tokoh nasional seperti Ida Ismail (Pendiri Kohati), Hanifa Hussein (Dewan Penasehat ForHati), dan Bety Epsilon Idros (Komisioner KPU-RI).
Bagi Fauzia, karya ini bukan sekadar buku, melainkan bentuk kontribusi nyata perempuan muda terhadap bangsa. “Kalau perempuannya kuat, negaranya juga kuat. Kami ingin perempuan sadar bahwa mereka bukan penonton dalam pembangunan, tetapi sutradara perubahan,” ucapnya mantap.
Dengan semangat Perempuan Berdaya Membangun Generasi Dikdaya, Kohati HMI Cabang Bogor ingin menegaskan bahwa masa depan Indonesia Emas hanya bisa terwujud jika perempuan diberdayakan sepenuhnya karena dari tangan perempuan yang berdaya, akan lahir generasi yang tangguh, cerdas, dan siap membawa bangsa ini menuju peradaban yang lebih maju. (Tr-76)












Discussion about this post