logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
Pemkot Gorontalo

Home Disway

Serba Utara

Lukman Husain by Lukman Husain
Thursday, 10 July 2025
in Disway
0
Bersama pengusaha Indonesia yang tergabung dalam Indonesia Chamber of Commerce of Western Australia di Tempatan Bay, Perth, 8 Juli 2025.--

Bersama pengusaha Indonesia yang tergabung dalam Indonesia Chamber of Commerce of Western Australia di Tempatan Bay, Perth, 8 Juli 2025.--

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Dahlan Iskan

 

ANDA sudah terbiasa memandang ke utara. Pun saya. Singapura di utara. Jepang di utara. Korea Selatan di utara. Sekarang Tiongkok juga di utara. Ke Eropa Anda harus agak ke utara. Demikian juga ke Amerika  dan Kanada.

Itu akibat kenyataan bahwa kemajuan selalu ada di utara. Australia pernah jengkel dengan frame serba utara itu. Seolah yang di selatan itu hanya seperti bagian bawah dunia. Hanya seperti halaman belakang. Apa lagi ada framing: laut selatan hanya berisi nenek sihir.

Related Post

Amang Waron

Reflek Radjimin

Gagal Sukses

Jane Moses

Suatu saat saya ke Australia Barat. Ke Perth. Bertemu perdana menteri negara bagian itu –namanya pun sudah lupa. Yang tidak akan lupa adalah kantornya.

Utamanya di lobinya. Di situ, di salah satu dindingnya, terpasang peta dunia. Menarik. Atraktif. Peta itu dipasang terbalik. Dengan demikian letak Australia berada di bagian atas dunia!

Yang juga menarik: teks yang tertulis di bawah peta itu. Teksnya tidak terbalik. Dengan mudah terbaca kalimat yang menggelitik: tidak lagi di bagian bawah!

Itu, bagi saya, tidak sekadar peta yang terbalik. Bukan pula hanya sebuah humor. Itu mewakili sebuah perasaan dari sebuah wilayah yang diperlakukan tidak adik. Pemasangan peta dengan cara seperti itu adalah bentuk protes. Bentuk ketidak terimaan akan nasib.

Itu juga mencerminkan tekad perlunya membalik keadaan. Satu-satunya jalan melawannya adalah: bergerak maju. Bangkit. Kejar kemajuan. Hapus stigma.

Senin kemarin saya mendarat di Perth. Sudah lama tidak ke sini. Rasanya saya pernah bertekad –setelah tiga kali ke Perth– untuk tidak mau ke Perth lagi. Indah, bersih, tapi membosankan. Pukul 17.00 sudah sepi –kehidupan seperti berhenti pada jam itu.

Kali ini saya ke Perth dalam posisi mau tidak mau: cucu Pak Iskan minta saya ikut ke Perth –bersama Bonek dan Bonita. Australia Barat mengundang Persebaya bertanding di sana. Sekalian menandai 35 tahun sister province Jawa Timur-Australia Barat.

Saya pilih naik pesawat paling murah: TransNusa. Dari Bali ke Perth. Konsekuenainya: harus bermalam di Bali. Tidak mengapa. Sesekali ke Bali tanpa agenda. Jalan-jalan. Atau bertemu sahabat.

Ternyata sulit cari hotel di Bali di hari libur panjang seperti ini. Apalagi cari hotelnya juga tidak  serius. Akhirnya saya pilih cari homestay. Yang tidak jauh dari Kuta dan Bandara. Sekalian merasakan –untuk kali pertama– seperti apa yang disebut homestay di Bali.

Ternyata seperti hotel juga. Hanya kamarnya sedikit –hanya 7 kamar. Rumah khas Bali yang sudah disesuaikan dengan standard hotel untuk turis asing: bersih, kamar mandi di dalam, ada taman kecil dan kolam renang kecil –lebih tepatnya tempat berendam.

Kamar saya di lantai dua. Saat mau menuju ke kamar itu saya harus melewati koridor lantai bawah. Lewat kamar berkaca lebar. Tembus pandang.

Di dalamnya terlihat wanita muda tinggi berisi. Dia hanya pakai bikini, mematut diri di depan cermin. Turis asing. Itu bikin dosa di mata tapi sayang dilewatkan. Dosanya kecil karena hanya terlihat sesapuan pandang.

Sambil menunggu kunci, saya duduk di sofa pojok. Ada tumpukan buku. Sekitar 15 buku. Saya buka-buka buku itu. Berbagai bahasa –kecuali bahasa Indonesia.

Saya tertarik dengan salah satunya. Saya coba baca bagian awalnya. Menarik. Maka saya pinjam buku itu untuk saya bawa ke kamar.

Ternyata, sejak itu, saya tidak keluar kamar lagi. Saya tenggelam dengan buku itu. Sampai larut malam. Sebuah novel –tapi kejadian nyata. Judulnya: The Schoolgirl, Her Teacher and His Wife oleh Rebecca Hazel.

Kejadiannya di Australia: seorang guru, punya istri dan dua anak, jatuh cinta ke muridnya yang berumur 14 tahun. Si murid lagi punya problem besar dengan orang tuanyi.

Istri sang guru kemudian hilang. Tidak ada bukti pembunuhan. Tapi polisi curiga dia dibunuh sang suami demi mendapatkan murid wanitanya. Seminggu dua minggu kemudian si murid dibawa pulang ke rumah itu. Menempati kamar sang istri.

Sampai 30 tahun misteri hilangnya istri itu tidak terungkap. Setelah si murid tamat sekolah, dia dikawini. Di umur 17 tahun. Punya anak satu, perempuan.

Hazel, sebagai wartawan, terus mempersoalkan hilangnya si istri. Bertahun-tahun. Tidak putus asa. Ketika zaman baru lahir –zaman medsos– dia bikin podcast. Temannya: The Teacher’s Pet. Berseri. Semua yang terkait diundang ke podcast. Heboh. Pemirsa podcast itu sampai 18 juta orang.

Akhirnya sang guru ditangkap: setelah 40 tahun istrinya hilang. Setelah ia punya istri yang ketiga. Si murid sudah lama lari dari rumah sang guru –tidak tahan atas hidup dikungkung suami di rumah saja.

Kecurigaan terbesar: sang istri dikubur di pekarangan rumah. Sunyi. Rumah ini di bukit yang jalannya buntu. Apalagi ditemukan baju-baju sang istri juga terkubur di situ. DNA di baju itu sampai diperiksakan ke Texas di Amerika. Cocok dengan DNA sang istri.

Gara-gara podcast itu sang guru ditangkap. Diadili. Ia mengaku tidak bersalah. Tidak ada bukti. Pekarangan rumah digali. Tidak ditemukan apa-apa.

Yang terbukti: ia melakukan hubungan seks dengan muridnya di saat si murid berumur 15 tahun. Di zaman 40 tahun sebelum pengadilan, itu masih dianggap melanggar hukum.

Vonis Hakim dijatuhkan di tahun 2023 –40 tahun setelah hilangnya istri. Pengadilan itu berlangsung dua tahun –karena terhambat Covid-19.

Sang guru mengajukan permintaan: tidak mau pakai sistem juri. Siapa pun di Australia sudah punya kesimpulan ia-lah pembunuh sang istri –akibat kuatnya pengaruh podcast The Teacher’s Pet.

Sang guru minta pengadilannya pakai sistem hakim tunggal. Biar hakim yang memutuskan ia bersalah atau tidak.

Permintaan dipenuhi. Kali pertama sistem juri tidak dipakai atas permintaan terdakwa.

Ternyata hakim juga memutuskan ia bersalah.

Ia dijatuhi hukuman 24 tahun. Tetap tidak ditemukan di mana sang istri.

Buku itu selesai saya baca: dalam 12 jam. Pukul 05.00 harus bangun. Lalu siap-siap ke bandara, menuju Perth.

Pagi itu saya kembali memasuki terminal internasional bandara Ngurah Rai. Waktu baru dioperasikan saya pernah survei kecil-kecilan. Sembilan penumpang dari Australia saya tanya: berapa nilai bandara baru ini.

Mereka umumnya menjawab: 8 sampai 9.

Lalu saya tanya: di mana bandara di Australia yang nilainya delapan atau sembilan. Jawabnya kompak: tidak ada. Yang tertinggi hanya tujuh.

Survei itu saya maksudkan untuk membalik opini mereka bahwa dalam hal bandara Indonesia sudah lebih baik dari Australia. Fisiknya.

Saya ingat peta yang dipasang terbalik di Australia. Upaya mereka untuk membalik keadaan juga berhasil.

Tiba di Perth saya kaget: kota ini berubah drastis. Kota ini bisa menjadi lebih menarik dari Singapura!

Tentu saya belum bisa melihat banyak sudutnya. Saya masih memilih melihat tim baru Green Force berlatih di Perth –untuk pertandingan yang disiarkan langsung oleh Indosiar Rabu malam nanti.

Saya amati pelatih baru. Saya amati pemain-pemain lama dan pendatang baru. Saya ingin menilai apakah tim baru ini bisa jadi juara –tidak hanya juara separo musim.

Bonek begitu mimpi juara –sampai 70 orang ikut terbang ke Australia Barat untuk mendoakannya. Saya diingatkan untuk juga mendoakan Diego Jota.(*)

Tags: Catatan Harian DahlanDahlan IskanDiswayHarian Dahlanharian diswayTulisan Dahlan

Related Posts

--

Amang Waron

Tuesday, 13 January 2026
Ilustrasi kondisi seseorang vegetatif.--

Reflek Radjimin

Monday, 12 January 2026
Zohran Mamdani ke Bronx, menandatangani kebijakan di jalanan Sedgwick Avenue didampingi Tascha Van Auken.-crainsnewyork-

Gagal Sukses

Tuesday, 6 January 2026
Ilustrasi Robert Moses dan Jane Jacobs--Savingplaces

Jane Moses

Monday, 5 January 2026
Jumaane Williams (kiri) Zohran Mamdani dan Mark D. Levine.--

Tiga Serangkai

Sunday, 4 January 2026
--

Bintang 2025

Wednesday, 31 December 2025
Next Post
Yunus Nusi

PT Angkasa Pura, Erick Thohir Tunjuk Putra Gorontalo Jabat Komisaris

Discussion about this post

Rekomendasi

Tiga pelaku kekerasan seksual di amankan Polres Bone Bolango, Kamis (15/1/2026) Foto: Natharahman/ Gorontalo Post.

Modus Pesta Miras, Tiga Pria di Bone Bolango Tega Rudapaksa Gadis Belia

Friday, 16 January 2026
Personel Brimob Polda Gorontalo dibantu oleh masyarakat sekitar, melakukan perbaikan jembatan yang putus di Dusun Mohulo, Desa Molalahu, Kecamatan Pulubala, Kabupaten Gorontalo.

Gerak Cepat, Brimob Perbaiki Jembatan Putus di Pulubala

Friday, 16 January 2026
Irjen Pol Widodo

Kapolda Kaget PETI Dekat Mapolres, Picu Banjir di Pohuwato, Pastikan Penindakan

Thursday, 15 January 2026
Kemendikdasmen Salurkan Laptop untuk Sekolah Dasar Dukung Digitalisasi Pembelajaran

Kemendikdasmen Salurkan Laptop untuk Sekolah Dasar Dukung Digitalisasi Pembelajaran

Saturday, 20 December 2025

Pos Populer

  • Para pejabat pimpinan tinggi pratama di lingkungan Pemprov Gorontalo yang menajalani pelantikan, berlangsung di ruang dulohupa kantor gubernur, Senin (12/1). (foto: tangkapan layar)

    BREAKING NEWS: Gusnar Lantik 25 Pejabat Pemprov, Berikut Nama-namanya

    590 shares
    Share 236 Tweet 148
  • Dukung Program Presiden, Yayasan Kumala Vaza Grup Salurkan CSR ke 20 Sekolah

    79 shares
    Share 32 Tweet 20
  • Kemendikdasmen Salurkan Laptop untuk Sekolah Dasar Dukung Digitalisasi Pembelajaran

    187 shares
    Share 75 Tweet 47
  • Modus Pesta Miras, Tiga Pria di Bone Bolango Tega Rudapaksa Gadis Belia

    46 shares
    Share 18 Tweet 12
  • Bupati-Bupati Kita

    49 shares
    Share 20 Tweet 12
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.