Gorontalopost.co.id, GORONTALO — Jelang Ramadan 1446 H, komunitas Koko’o Gorontalo kembali mempersiapkan tradisi tahunan yang telah berlangsung sejak 2014 silam. Persiapan ini dimulai sejak Desember 2024, dengan proses rekrutmen anggota baru yang difokuskan pada generasi muda yang ada di Kelurahan Talumolo.
Ketua Koko’o, Fikram Idrus menyampaikan, markas koko’o akan menyambut malam perdana sahur dengan tradisi koko’o atau toki sahur. Tradisi tersebut berupa membangunkan masyarakat untuk mempersiapkan santap sahur, di mana pihaknya akan menggunakan pentungan untuk dipukul, sehingga menimbulkan bunyi yang nyaring. Hal ini pula merupakan bagian dari dari pelestarian budaya lokal.
“Persiapan sudah kami lakukan tiga bulan sebelum Ramadan. Desember menjadi bulan pertama kami membuka rekrutmen keanggotaan baru. Kami prioritaskan anak-anak muda dari Kelurahan Talumolo sebagai regenerasi. Untuk saat ini, persiapan bisa dikatakan sudah mencapai 85 persen,” jelas Fikram saat ditemui di Markas Koko’o.
Ditambahkan pula, pada penampilan perdana tahun ini, Koko’o Gorontalo menghadirkan konsep baru, dengan mengangkat budaya dan tradisi lokal Gorontalo. “Setiap tahun kami selalu menghadirkan hal unik. Kali ini, kami mengkolaborasikan musik modern dan tradisional. Selain mempertahankan tradisi, kami juga ingin mempromosikan budaya Gorontalo,” ungkapnya.
Kegiatan Koko’o tahun ini akan dimulai dari Bundaran Saronde dan berakhir di Markas Koko’o Talumolo, dengan dua puncak keramaian yakni, pada malam pertama Ramadan dan malam takbiran. Selain itu, dukungan dari masyarakat pun cukup banyak. Hal ini bisa dilihat dari antusias mereka dalam membantu pelaksanaan program ini, baik dengan cara menyumbangkan pikiran, saran, tenaga hingga dana.
“Sebagian besar anggaran berasal dari masyarakat. Pemerintah pun dari tahun ke tahun memberikan perhatian, tetapi kami tidak sepenuhnya bergantung pada mereka. Kami juga melibatkan perusahaan-perusahaan di Kelurahan Talumolo untuk menjadi sponsor,” paparnya.
Untuk memastikan kelancaran acara, komunitas koko’o mengadakan empat kali sesi latihan resmi. Selain itu, mereka juga bekerja sama dengan pihak keamanan serta pemerintah dalam proses perizinan.
Tradisi Koko’o terus bertransformasi. Jika sebelumnya hanya menggunakan bentor, viar, dan pick up, kini mereka mengandalkan truk tronton sebagai panggung berjalan yang mulai digunakan sejak 2019.
“Konsep modernnya kami wujudkan dengan menghadirkan drum, pentungan koko’o, dan alat musik tradisional seperti polopalo. Ini semua kami lakukan agar musik tradisional lebih menarik di mata generasi muda,” terang Fikram.
Pada dasarnya pihak Koko’o Gorontalo berharap, tradisi ini dapat terus berlangsung dan berkembang setiap tahunnya. Mereka juga berkomitmen mempromosikan kegiatan ini melalui media sosial agar semakin dikenal, tidak hanya di Gorontalo, tetapi juga di luar daerah.
“Kami ingin menyampaikan kepada generasi muda bahwa musik tradisional patut dibanggakan. Itulah mengapa Koko’o Gorontalo hadir, untuk menghidupkan suasana Ramadan dengan nuansa tradisi yang dikemas secara modern,” pungkas Fikram. (Mg-08/ Mg-10/ Mg-09/ Mg-11)









