logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Disway

PLN Transisi

Lukman Husain by Lukman Husain
Saturday, 17 October 2026
in Disway
0
PLN Transisi

Dirut baru PLN, Suroso Isnandar.--

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp
oleh:
Dahlan Iskan

Ketika beberapa bulan lalu RUPS mengangkat kembali Dr Darmawan Prasojo tetap sebagai dirut PLN ia tampak orang yang sangat kuat: sejak lama baru ada kali itu dirut PLN dapat masa jabatan kedua.

Ternyata periode kedua itu hanya berumur 699 hari. Rabu malam kemarin RUPS PT PLN mencopotnya: diganti tokoh internal PLN, Suroso Isnandar.

Yang banyak diperbincangkan di medsos bukan soal penggantiannya, tapi caranya. Yakni dilakukan hanya dalam sebuah RUPSLB via Zoom. Maka penggantian pejabat via telpon, via utusan, dan via Zoom menjadi sudah biasa.

Related Post

Iris Istri

Camino Nakasendo

Hati Ngadirejo

Pengusaha Pilihan

Negara kita kelihatannya kian efisien.

RUPS via Zoom sebenarnya tidak aneh. Terutama sejak ada pandemi Covid-19. Setelah Covid berlalu pun RUPS via Zoom masih sering dilakukan. Memang lebih praktis. Terutama di perusahaan yang tidak mementingkan hubungan antar manusia lagi.

Apalagi di PLN. Sahamnya 100 persen masih milik negara. Belum berstatus go publicpula. Maka pada dasarnya Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT PLN cukup dihadiri satu orang saja. Yakni yang mewakili pemegang saham satu-satunya: negara.

Dulu yang disebut “negara” di situ adalah menteri keuangan yang dalam praktiknya dikuasakan ke menteri BUMN.

Kini “negara” itu diwakili oleh Danantara. Ups… masih ada satu pemegang saham lainnya: Badan Pengelola BUMN –d/h kementerian BUMN. Meski kepemilikan saham “Badan” itu hanya satu persen sebutannya “saham merah putih”: tidak boleh ada keputusan tanpa persetujuan yang satu persen itu. Ia negara juga.

Walhasil RUPS PT PLN sebenarnya tidak perlu juga lewat Zoom. Cukup diputuskan oleh Danantara dan “Badan” itu lewat satu lembar dokumen diberi judul keputusan RUPS. Selesai. Tidak boleh ada yang keberatan.

Bahwa harus ada RUPS itu semata karena di dalam AD/ART perseroan disebutkan penggantian direksi harus dilakukan oleh RUPS. Tapi, ya, itu tadi. Keputusan RUPS ditentukan oleh kehendak suara mayoritas. Sedang di PLN negara bukan saja mayoritas melainkan pemilik tunggal.

Jabatan Dirut PLN memang salah satu kursi panas di negeri ini. Satunya lagi Dirut Pertamina. Tapi tetap saja banyak yang ingin merasakan seberapa panas kursi itu. Jangan-jangan ternyata sejuk dan empuk.

Panasnya kursi itu juga lantaran begitu banyak yang ingin memanfaatkan PLN. Mereka lupa bermain di PLN itu sama dengan main api: misalnya byar-pet di Jawa dan Sumatra belum lama ini. Korbannya rakyat. Korban lainnya: perekonomian negara.

PLN sebenarnya tahu apa penyebabnya, tapi takut membicarakannya: kelangkaan pasok batu bara untuk kebutuhan dalam negeri sendiri.

Minggu lalu terjadi lagi yang lebih fatal-jenderal: black out listrik di seluruh Batam. Malu. Mati lampu di depan hidung Singapura yang bermandi cahaya.

Untung tidak ada yang bilang itu sabotase yang dilakukan antek asing sebagai balasan atas kiriman asap dari kebakaran hutan di Indonesia.

Anda sudah tahu: listrik di Batam sebenarnya bukan urusan langsung PLN. Itu urusan PT PLN Batam. Itu anak perusahaan PLN khusus membawahi Batam dan Bintan. Punya direksi sendiri. Jadi yang layak diganti pertama-tama sebenarnya Dirut PT PLN Batam.

Tapi untuk menggantinya perlu RUPS PT PLN Batam. Yang harus berinisiatif melaksanakan adalah PLN Pusat sebagai pemegang saham mayoritas. Rupanya belum lagi dirut PLN memutuskan mengganti dirut PT PLN Batam sudah lebih dulu diganti.

Kenapa ada PT PLN Batam?

Zaman dulu memang ada ide agar tiap satu pulau berdiri PT PLN sendiri. Ada direksinya sendiri. Agar kemampuan memikirkan listrik di satu pulau bisa lebih fokus. Tidak lagi menunggu keputusan PLN Pusat.

“Satu PLN” untuk seluruh Indonesia memang terlalu besar. Apalagi Indonesia negara kepulauan: tidak bisa punya jaringan listrik yang tersambung secara nasional. Tidak bisa seperti Tiongkok atau negara Eropa. Amerika saja, yang satu daratan, perusahaan listriknya banyak.

Anda sudah tahu: di Indonesia kebutuhan setiap pulau berbeda jauh. Di Jawa jaringannya sudah harus 500 kva. Di Sumatera masih 275kva. Kalimatan dan Sulawesi 150 kva. Banyak pulau yang langsung 20 kva.

Pemikiran punya banyak PLN itu rupanya berhenti. Hanya sempat punya dua PLN saja: PT PLN Batam dan PT PLN Tarakan. Belakangan PT Tarakan dianggap terlalu kecil. Dirutnya hanya selevel kepala cabang di PLN. Sekarang PT PLN Tarakan sudah tidak ada. Listrik di sana kembali diurus oleh PLN Cabang Tarakan.

Sebaliknya, “men-Tarakan-kan”: PT PLN Batam rupanya sulit. Mungkin saja banyak kepentingan yang berbenturan. PT PLN Batam sudah cukup seksi untuk jadi rebutan.

Padahal, akhirnya kelak, PT PLN Batam juga harus “hilang”. Bukankah Presiden Prabowo sudah menegaskan BUMN dan anak cucunya akan dijadikan tinggal 200 perusahaan saja.

Ide membuat banyak “PLN” dulu itu urung karena terlalu banyak kritik. Itu dicurigai sebagai langkah awal menuju swastanisasi dan liberalisasi PLN. Berarti ide itu lahir di sekitar tahun 1990-an –saat Indonesia harus tunduk pada IMF.

Seandainya ide itu terlaksana; apakah kelistrikan sekarang lebih baik? Sampai saat ini tidak ada yang melakukan kajian akademisnya.

Di Nagoya saya baca: salah satu tugas dirut PLN yang baru adalah membuat konsep struktur PLN ke depan. Terutama berkaitan dengan transisi energi –dari fosil ke green energy.

Tentu itu pekerjaan berat. Apakah PLN akan membangun solar sel sendiri? Atau diserahkan ke swasta? Atau kombinasi?

Harus jelas. PLN tidak boleh lagi ragu-ragu.

Untuk tidak ragu jelas perlu dukungan penuh pemerintah: politik dan permodalan. Tanpa itu PLN akan terus termangu di persimpangan transisi.

Dukungan politik itu, misalnya, soal kebijakan subsidi. Kalau memang tarif listrik masih harus bersubsidi maka pemerintah harus jelas: kapan membayar uang subsidinya ke PLN.

Selama ini PLN, sebagai perusahaan, terus menalangi uang subsidi itu –sambil menunggu kapan ada pencairan dari pemerintah. Yang seperti itu membuat ruang gerak PLN sempit. Terutama untuk ekspansi ke green energy.

Atau diserahkan saja ke swasta? Untuk itu PLN harus membeli listrik swasta (dari solar cell). Harganya lebih mahal dari harga jual PLN ke masyarakat.

Yang paling krusial adalah soal pemanfaatan lahan strategis untuk solar cell. Yakni atap pabrik, atap gedung, permukaan air, yang semuanya luas-luas itu.

Belum ada ketegasan di sini: apakah PLN akan dengan antusias membelinya. Kenyataannya di satu pihak PLN enggan membelinya. Di lain pihak swasta tidak bisa jualan listrik tanpa menggunakan jaringan milik PLN.

Maka salah satu jalan keluarnya adalah: PLN harus rela menyewakan transmisi listriknya. Dengan demikian pabrik tekstil yang atapnya luas bisa dipasangi solar sel. Kelebihan listriknya dijual ke pabrik lain lewat jaringan PLN –dengan sistem sewa. Di banyak negara itu biasa.

Presiden kelihatannya sangat gemes akan seretnya pelaksanaan transisi energi. Tapi dirut PLN memang juga harus memikirkan agar PLN tidak jadi korban transisi energi. Ini sungguh agenda yang menantang. Terutama kalau pencairan uang subsidi sangat seret –yang membuat PLN pusing memikirkan cash flow-nya.

Jangan-jangan kepusingan cash flow itu yang membuat konsep transisi energi tidak kunjung jadi. (DIS)

Tags: Catatan Dahlancatatan dahlan iskanDahlan IskanDiswayharian diswayPLN Transisi

Related Posts

Iris Istri

Iris Istri

Saturday, 17 October 2026
Camino Nakasendo

Camino Nakasendo

Friday, 16 October 2026
Hati Ngadirejo

Hati Ngadirejo

Wednesday, 14 October 2026
Bali Lombok

Bali Lombok

Wednesday, 14 October 2026
Pengusaha Pilihan

Pengusaha Pilihan

Tuesday, 13 October 2026
Kacamata Mata

Kacamata Mata

Sunday, 11 October 2026
Next Post
Kembali Kunjungi Gorontalo, Tuan Guru UAS Tausiah di Polda

Kembali Kunjungi Gorontalo, Tuan Guru UAS Tausiah di Polda

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 30 Juli 2026

Rekomendasi

Kembali Kunjungi Gorontalo, Tuan Guru UAS Tausiah di Polda

Kembali Kunjungi Gorontalo, Tuan Guru UAS Tausiah di Polda

Saturday, 17 October 2026
PETI Botudulanga Merajalela, Kapolres : Mereka Masih Nekat Kita Sikat

PETI Botudulanga Merajalela, Kapolres : Mereka Masih Nekat Kita Sikat

Friday, 16 October 2026
Kualitas Udara Gorontalo Memburuk, Masuk Kategori Tidak Sehat

Kualitas Udara Gorontalo Memburuk, Masuk Kategori Tidak Sehat

Wednesday, 14 October 2026
Pertamia Pastikan SPBU Terisi Sebelum Pukul 06.00

Pertamia Pastikan SPBU Terisi Sebelum Pukul 06.00

Wednesday, 14 October 2026

Pos Populer

  • Besok, Istri Wapres Gibran ke Gorontalo

    Besok, Istri Wapres Gibran ke Gorontalo

    59 shares
    Share 24 Tweet 15
  • Karhutla Pelita Hijau: 5.350 Pohon Kemiri dan Cengkeh Terbakar, Api Merambat ke HPT

    91 shares
    Share 36 Tweet 23
  • Kementrian ESDM Bidik PETI Boalemo di Paguyaman Cs

    53 shares
    Share 21 Tweet 13
  • Kualitas Udara Gorontalo Memburuk, Masuk Kategori Tidak Sehat

    55 shares
    Share 22 Tweet 14
  • Inflasi Gorontalo Meroket Tertinggi Rata-rata Nasional, Mendagri Jewer Pemda!

    41 shares
    Share 16 Tweet 10
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 4 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.