gorontalopost.co.id – Beberapa hari terakhir, kondisi langit Gorontalo nampak tak biasa, seperti mendung tapi cuaca panas. Melihat ke sejumlah arah, gunung pun nampak tertutup kabut. Rupanya, hal itu dipengaruhi asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), dan membuat kualitas udara Gorontalo memburuk. Pada pemantauan 9 Oktober 2026, seluruh enam kabupaten/kota di Gorontalo mencatat indeks kualitas udara (AQI) di atas 100, masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif.
Kabupaten Pohuwato mencatat AQI tertinggi sebesar 130. Kota Gorontalo dan Kabupaten Bone Bolango masing-masing berada pada angka 117, Boalemo 114, sedangkan Kabupaten Gorontalo dan Gorontalo Utara masing-masing mencapai 111. Angka tersebut menunjukkan kualitas udara berpotensi berdampak pada kesehatan kelompok rentan, termasuk anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki penyakit asma, paru-paru, dan jantung.
Kondisi atmosfer di Gorontalo turut dipengaruhi sebaran asap lintas wilayah. Berdasarkan pemantauan satelit, wilayah ini menerima kiriman asap dari Kalimantan pada 11 Oktober 2026. Sehari kemudian, kiriman asap tidak terpantau, tetapi titik panas masih terdeteksi di sejumlah lokasi.
BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Djalaluddin Gorontalo, dikutip media menjelaskan bahwa kondisi udara masih berpotensi kabur akibat asap karhutla, baik dari sumber lokal maupun kiriman dari luar daerah. Prakiraan pada 12 Oktober juga menyebutkan potensi kiriman asap dari Papua pada hari berikutnya.
Prediksi sebaran PM2.5 yang diterbitkan Stasiun Pemantau Atmosfer Global (GAW) Palu menunjukkan kualitas udara Gorontalo berada pada tingkat sedang hingga tidak sehat. Pemantauan karbon monoksida dari stasiun yang sama juga menjadi salah satu indikator kondisi atmosfer yang perlu diwaspadai. PM2.5 merupakan partikel halus berukuran 2,5 mikrometer atau lebih kecil yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Paparan partikel ini dapat memicu iritasi mata dan tenggorokan, batuk, serta gangguan pernapasan. Dalam jangka panjang, paparan PM2.5 juga dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung, stroke, dan penyakit paru-paru kronis.
Menghadapi kondisi tersebut, Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Provinsi Gorontalo, Anang S. Otoluwa, mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker yang sesuai ketika harus beraktivitas di tengah udara tercemar. “Ketika kualitas udara memburuk akibat asap kebakaran hutan, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan. Gunakan masker yang sesuai saat beraktivitas di luar ruangan dan kurangi kegiatan yang tidak mendesak, terutama bagi kelompok rentan,” ujar Anang, Sabtu (10/10).
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan gejala seperti batuk berkepanjangan, napas berbunyi atau mengi, dan sesak napas. Warga yang mengalami keluhan tersebut setelah terpapar asap diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan. Jika terjadi sesak napas berat atau kondisi memburuk dengan cepat, pertolongan medis darurat harus segera dicari.
Selain itu, masyarakat disarankan membatasi aktivitas fisik di luar ruangan, menutup pintu dan jendela ketika asap berada di sekitar tempat tinggal, serta mengikuti informasi resmi mengenai kualitas udara.
Di tingkat pemerintah, Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail memimpin rapat koordinasi pada Selasa (13/10) kemarin, untuk mengantisipasi dampak sebaran asap terhadap kualitas udara, kesehatan masyarakat, dan transportasi. Dalam rapat itu disampaikan bahwa sebagian asap yang mencapai Gorontalo merupakan kiriman dari Papua Selatan. Gusnar meminta seluruh pihak meningkatkan kesiagaan dan memperbarui informasi perkembangan situasi secara berkala agar dampak sebaran asap dapat diminimalkan. “Saya minta semua pihak siaga dan terus saling mengupdate situasi setiap saat, supaya dampaknya bisa kita minimalkan bersama,” tegasnya. (gp)












Discussion about this post