Oleh:
Ridwan Monoarfa
Kabar mengenai menyusutnya kelas menengah nasional dalam beberapa tahun terakhir semestinya tidak dibaca sekadar sebagai statistik ekonomi. Ia adalah alarm sosial. Di banyak negara, kelas menengah merupakan penyangga utama stabilitas, konsumsi domestik, pendidikan keluarga, serta sumber etos kerja produktif. Ketika kelompok ini melemah, yang terancam bukan hanya daya beli, melainkan juga optimisme kolektif tentang masa depan. Dalam konteks itu, membicarakan kelas menengah di Gorontalo menjadi penting.
Daerah yang sedang bertumbuh membutuhkan kelas menengah yang sehat sebagai fondasi kemajuan ekonomi dan modernisasi sosial. Daron Acemoglu melalui berbagai kajiannya menegaskan bahwa kemajuan bangsa bertumpu pada institusi yang inklusif: akses ekonomi yang luas, kepastian hukum, kompetisi usaha yang sehat, serta kesempatan naik kelas bagi warga. Dalam kerangka itu, tumbuhnya kelas menengah yang kuat merupakan hasil sekaligus penopang pembangunan yang sehat.
Kelas Menengah dan Fondasi Kemajuan
Secara sederhana, kelas menengah adalah kelompok masyarakat yang telah melampaui kebutuhan dasar, memiliki pendapatan relatif stabil, mampu menabung, mengakses pendidikan yang lebih baik, dan memiliki aspirasi meningkatkan kualitas hidup. Di Gorontalo, kelompok ini hadir di kalangan aparatur sipil negara, guru, dosen, tenaga kesehatan, pedagang mapan, pelaku UMKM, petani produktif, profesional muda, dan wirausaha lokal. Merekalah yang menjaga denyut ekonomi sehari-hari: membeli rumah, kendaraan, perlengkapan sekolah, membuka usaha kecil, serta menggerakkan pasar lokal.
Saat kelas menengah percaya diri, ekonomi daerah ikut bergerak. Namun ketika mereka menahan konsumsi akibat ketidakpastian pendapatan, perlambatan segera terasa di pusat-pusat perdagangan dan jasa.
Di sinilah tantangan Gorontalo hari ini. Pertumbuhan ekonomi daerah patut diapresiasi, tetapi fondasinya masih bertumpu besar pada konsumsi rumah tangga. Ketergantungan semacam ini membuat ekonomi mudah rapuh ketika daya beli masyarakat menurun. Pertumbuhan akan kurang kokoh bila tidak disertai perluasan sektor produksi yang bernilai tambah tinggi. Pada saat yang sama, profil sosial ekonomi daerah masih didominasi kelompok rentan: mereka yang telah keluar dari garis kemiskinan, tetapi belum sepenuhnya mapan sebagai kelas menengah yang kuat.
Banyak keluarga hidup sedikit di atas ambang kerentanan. Kenaikan harga pangan, biaya pendidikan, atau gangguan kesehatan dapat dengan cepat mendorong mereka kembali ke bawah. Karena itu, pembangunan tidak cukup hanya berfokus pada menurunkan angka kemiskinan. Target yang lebih tinggi adalah memperbesar jumlah warga yang naik menjadi kelas menengah produktif.
Ukuran kemajuan daerah bukan hanya berkurangnya penduduk miskin, tetapi bertambahnya keluarga yang memiliki pendapatan stabil, tabungan, akses pendidikan baik, dan masa depan yang lebih pasti.
Jalan Baru Pembangunan Gorontalo
Untuk mencapai tujuan tersebut, Gorontalo memerlukan strategi baru. Pertama, hilirisasi komoditas lokal. Gorontalo tidak boleh terus terjebak sebagai pemasok bahan mentah. Produk unggulan seperti jagung, kelapa, kakao, perikanan, dan peternakan harus diolah lebih jauh di dalam daerah. Nilai tambah yang tercipta akan memperbesar pendapatan lokal, membuka lapangan kerja formal, dan melahirkan kelas menengah baru dari sektor produktif.
Kedua, menaikkan kelas UMKM. Banyak usaha kecil di Gorontalo memiliki daya tahan tinggi, tetapi masih terbatas pada skala informal. Mereka perlu didorong melalui digitalisasi, akses pembiayaan, pendampingan manajemen, dan kepastian pasar. Ketika UMKM naik kelas, pemilik usaha bertumbuh, tenaga kerja terserap, dan ekonomi lokal menjadi lebih dinamis.
Ketiga, investasi pada kualitas manusia. Pierre Bourdieu mengingatkan bahwa kemajuan sosial lahir dari perpaduan modal ekonomi, modal sosial, dan modal budaya. Artinya, sekolah berkualitas, pendidikan vokasi yang relevan, literasi digital, jejaring usaha, serta budaya meritokrasi sama pentingnya dengan pembangunan fisik.
Jalan dan gedung perlu, tetapi manusia unggul jauh lebih menentukan.
Keempat, menjaga daya beli masyarakat. Dalam ekonomi yang masih ditopang konsumsi, inflasi pangan dan gejolak harga kebutuhan pokok harus dikendalikan. Kelas menengah rentan sangat mudah terpukul oleh lonjakan harga. Karena itu, stabilitas pasokan pangan, distribusi yang efisien, dan perlindungan sosial yang tepat sasaran tetap menjadi keharusan. Pada akhirnya, masa depan Gorontalo tidak hanya ditentukan oleh besarnya APBD atau tingginya angka pertumbuhan ekonomi. Masa depan daerah ini ditentukan oleh seberapa banyak warganya yang berhasil naik kelas—hidup layak, produktif, dan percaya diri menatap masa depan. Sebab daerah maju bukan semata daerah yang kaya anggaran, melainkan daerah yang berhasil memperbesar kelas menengahnya. (*)
Penulis adalah Anggota DPRD Provinsi Gorontalo













Discussion about this post